Beranda All News Setelah 100 Hari Kerja Ansar Ahmad, Bangun Sirkuit MotoGP atau Jagal Politik...

Setelah 100 Hari Kerja Ansar Ahmad, Bangun Sirkuit MotoGP atau Jagal Politik 2024?

0
Cak Ta’in Komari.

Oleh: Cak Ta’in Komari
(Mantan Jurnalis & Mantan Dosen UNRIKA Batam)

KEPRI tiba-tiba akan membangun sirkuit motoGP atau Formula One (F1). Bukan satu, tapi dua. Di Lagoi Bintan dan Nongsa Batam. Katanya untuk menunjang pariwisata Kepri. Sirkuit itu akan mengalahkan sirkuit Mandalika Lombok. Kita hanya bisa bilang itu rencana sungguh luar biasa. Kita belum tahu berapa nilai anggaran dibutuhkan untuk pembangunan kedua sirkuit tersebut. Pastinya lebih dari biaya pembangunan sirkuit Mandalika lah.

Kalau kita melihat Sirkuit Mandalika yang mulai dibangun tahun 2019 menelan dana setidaknya US$ 1 miliar atau setara Rp. 14 Triliun (dihitung dengan kurs US Dolar sebesar Rp. 14.000). Dana itu merupakan investasi asing Vinci Construction asal Prancis. Operator dan pelaksana PT. Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Itu belum termasuk pembangunan fasilitas lainnya seperti hotel dan rumah sakit yang harus berstandar internasional. Untuk pembangunan rumah sakit Mandalika kabarnya akan menelan dana 45 miliar.

Kunjungan kerja Ketua MPR Bambang Soesetyo yang juga Ketua IMI, didampingi Pemilik Sirkuit Sentul Bogor Tinton Suprapto, ke Kepri tiba-tiba membawa wacana pembangunan dua sirkuit sekaligus. Mereka langsung melakukan survey lokasi untuk pembangunan tersebut di Lagoi Bintan dan Nongsa Batam. Tiba-tiba gambar sirkuit kedua lokasi sudah beredar. Hampir semua media beramai-ramai membanggakan rencana mercusuar tersebut.

Batam ternyata seolah sangat siap. Walikota Batam yang masih menjalankan jabatan Kepala BP Batam menyatakan telah mempersiapkan lahan seluas 120 hingga 150 hektar di Nongsa untuk pembangunan sirkuit tersebut. Seolah semua sudah disiapkan sebelumnya. Sudah ada desaign gambar sirkuit. Jangan-jangan anggaran pun sudah disiapkan.

Infrastruktur di Batam juga paling memenuhi syarat standar internasional. Hotel-hotel berbintang dan resort bertabur di setiap sudut kota, termasuk di Nongsa sendiri. Rumah Sakit juga sudah tersedia meski belum berstandar internasional. Setidaknya tinggal perlu upgrade lah. Ada RS Awal Bross, RS Budi Kemuliaan, atau RS BP Batam. Batam juga memiliki Bandar udara internasional yang memiliki landasan terpanjang di Asean, yang dapat dibuat landing pesawat besar.

Baca Juga :  Tikung-menikung Sirkuit Jagal Politik 2024 (2), Siapa Bisa Menumbangkan Rudi?

Pertanyaannya lagi, anggaran siapa untuk pelaksanaan pembangunan sirkuit tersebut? Investasi swasta, APBD Provinsi, APBD Kota Batam, atau BP Batam/APBN? Apa jaminan kalau sirkuit tersebut rampung akan digunakan sebagai ajang balap MotoGP atau Formula One. Mandalika dibangun karena sebelumnya telah mengikat kontrak dengan Dorna Sport sebagai pelaksana MotoGP. Sementara Formula One selama ini dilaksanakan Singapura, apakah negeri Singa itu akan berdiam diri akan bergeser ke Batam? Tentu tidak semudah itu.

Filosofi Sirkuit

Sirkuit merupakan tempat yang digunakan ajang untuk suatu even balapan baik motor maupun mobil. Di sana tempat orang saling menelikung, saling salip, kalau perlu saling potong, untuk memenangkan pertarungan. Kondisi ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan pertarungan politik. Seolah rencana pembangunan sirkuit itu memberikan gambar akan pertarungan para pembalap politik di Kepri 2024. Maka sesungguhnya sirkuit yang dibangun untuk balapan motoGP (Garapan Politik loh bukan Grand Prix) atau lebih dari itu “Sirkuit Jagal Politik 2024”.

Ada pemandangan menarik ketika kunjungan Bangsoet dan Tinton tersebut. Gubernur Kepri Ansar Ahmad mendampingi Ketua MPR dan rombongan itu meninjau lokasi di Lagoi, tapi tidak nampak saat peninjauan di Nongsa Batam. Rombongan itu nampak hanya dipandu Walikota Batam yang masih menjalankan jabatan Kepala BP Batam Muhammad Rudi. Apakah ini sinyal menjadi dimulai pertarungan balapan politik menuju Kepri 2024?

Proyek mercusuar pembangunan sirkuit itu anggaplah sebuah rencana prestisius. Terlaksana atau tidak, sepertinya masih panjang ceritanya. Masih terlalu banyak masalah tekhnis yang harus dirampungkan. Termasuk bagaimana pendanaan. Yang hampir tidak mungkin disupport APBN melalui BP Batam, dengan melihat APBN yang lagi babak belur. Kuartal pertama TA 2021 ini sudah deficit hingga Rp. 144,2 Triliun. Berharap dapat investasi asing. Kok seperti pungguk merindukan bulan, dalam situasi saat ini. Kecuali anggarannya ngutang. Ya tentu difasilitasi pemerintah pusat lah.

Baca Juga :  Dari Survei OECD, Optimisme Kepri Bersama Ansar Ahmad

Sirkuit itu justru lebih menggambarkan persaingan balapan politik antara Ansar Ahmad dan Muhammad Rudi. Mereka hampir bisa dipastikan akan lawan berlawan pada pilkada Gubernur Kepri 2024. Ansar akan menjadi in-cumbent atau petahana. Sementara Rudi saat ini merupakan Walikota Batam 2 periode, juga ex-officio Kepala BP Batam (meski hingga saat ini belum ada SK penetapan sebagai Kepala BP Batam lagi). Kemampuan Rudi dalam berpolitik juga sudah diakui banyak kalangan. Kemenangan telak 75 persen dia pada pilkada 2020 lalu menjadi salah satunya.

Pasangan Ansar Ahmad yakni Marlin Agustina adalah istri Rudi. Kemenangan Rudi itu diyakini memberikan kontribusi cukup besar bagi kemenangan Ansar-Marlin. Termasuk untuk wilayah Kabupaten Karimun, tempat asal muasal Marlin. Beberapa kalangan sudah mulai memprediksi pertarungan pilkada Kepri itu akan dimenangkan Rudi. Mantan polisi itu dikenal berani dalam bermanufer politik. Tiga partai sudah dilompatinya PKB, Demokrat, kini pegang Nasdem. Sudah begitu partai yang sudah dikhianatipun tetap memberikan dukungan ketika dia maju pilkada walikota lalu. Begitu juga partai-partai yang sudah menyatakan kecewa, mereka tetap saja mendukung Rudi. Sang istri yang merupakan wakil Ansar juga pasti akan menanamkan kukunya membangun kekuatan politik dari dalam pemerintahan.

Munculnya wacana pembangunan sirkuit itu tidak lama setelah muncul manufer laporan dugaan penggunaan ijazah palsu Muhammad Rudi ke Bareskrim Mabes Polri oleh seorang aktivis LSM. Itupun tidak lama setelah Ketua Kadin Kepri yang juga Ketua Golkar Kepri (separtai Ansar) melontarkan pernyataan ex-officio Kepala BP Batam sebagai produk gagal. Serangan soal ex-officio langsung tenggelam dengan mencuatnya persoalan limbah B3 yang diduga dilakukan PT. Wiraraja, milik Ahmad Makhruf Maulana, sang Ketua Golkar Kepri.

Baca Juga :  Piala Menpora 2021: Persebaya Lolos ke Perempatfinal, Satu Tiket Diperebutkan Empat Tim

Laporan dugaan ijazah palsu ke Bareskrim itu diterima dengan lancar. Bahkan informasinya, beberapa waktu kemudian setelah laporan sudah langsung dilakukan gelar perkara. Sepertinya situasi yang sudah dikondisikan. Perlakuan yang sangat berbeda saat aktivis pendidikan Paulin melaporkan kasus yang sama sebelumnya di akhir tahun 2020 lalu pasca pilkada. Sarjana Sastra Inggris itu sempat dipimpong ke sana kemari, yang intinya laporannya mau ditolak. Pergantian Kapolri rupanya mempengaruhi proses laporan Paul. Dia bersama teman-temannya diperiksa dan di BAP di Bareskrim beberapa bulan lalu. Ketika kasus seolah terhenti, terdiam, tiba-tiba muncul pelapor baru dan langsung jalan lagi.

Pertanyaan yang muncul kemudian, siapa di belakang aktivis LSM tersebut? Siapa yang mendukung dan mensupport atau bahkan mendorongnya? Terlepas siapapun itu, laporan dugaan penggunaan ijazah palsu yang hingga dua kali itu menjadi atensi. Bukan tidak mungkin akan ada laporan lagi jika laporan tersebut dinilai pihak tertentu mendeg lagi. Apakah bisa tuntas tahun ini atau tidak? Jika kasus tersebut lolos hingga akhir tahun ini, maka yang bersangkutan diyakini akan mulus bermanufer politik hingga pilkada 2024.

Faktanya, baru sebulan Ansar – Marlin dilantik Presiden, mereka dikabarkan sudah pecah kongsi. Alasannya deal-dealan jatah kekuasaan politik dalam tubuh pemerintahan jadi soal. Bukan hanya dengan Marlin/Rudi tapi juga dengan kelompok pendukung pilkada, yakni kelompok Saparuddin Muda. Meski saat ini sepertinya adem-adem saja. Tidak nampak riak gelombang, tapi badai bisa datang seketika. Faktanya saat ini, Marlin lebih banyak berjalan dengan Muhammad Rudi dan bermanufer sendiri dibandingkan bersinergi dengan sang gubernur. Jadi hati-hati sirkuit itu untuk balapan motoGP atau ajang jagal politik 2024?

“to be continue”

KEPRIMAUJADIAPA?

(***suaraserumpun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here