banner 728x90
Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyampaikan alasan dirinya ngotot mengubah perwajahan Kota Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, baru-baru ini. F- diskominfo kepri

Ini Alasan Gubernur Kepri Ansar Ahmad Mengubah Perwajahan Kota Tanjungpinang

Komentar
X
Bagikan

Tanjungpinang, suaraserumpun.com – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) H Ansar Ahmad SE MM ngotot mengubah perwajahan tata Kota Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri, sejak tahun 2021 lalu. Alasan Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengubah perwajahan Kota Tanjungpinang, sebagai upaya mengembalikan kejayaan kota ini sebagaimana di masa lampau.

Menurut Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Tanjungpinang sebagai kota yang dulunya sebagai ibu kota Provinsi Riau, sebelum berpindah ke Pekanbaru. Dan ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau, saat masih bergabung dengan Provinsi Riau. Tanjungpinang seharusnya lebih baik dibanding kabupaten/kota lain yang ada di Provinsi Kepri.

“Kota Batam dan Bintan lebih dikenal di mancanegara maupun di Indonesia,” ungkap Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Sabtu (6/1/2024).

Hal itu, menurut Gubernur Kepri Ansar Ahmad, didasari atas sejumlah pengalaman yang dialami secara langsung ketika bertemu dengan orang luar Kepulauan Riau.

Ada beberapa hal yang kemudian menjadikan Batam dan Bintan lebih dikenal. Menurut Ansar, di antaranya adalah terdapat sejumlah sektor unggulan yang dimiliki Batam dan Bintan.

“Selain itu ada privilage khusus diberikan pemerintah pusat kepada Batam dan Bintan,” sebut gubernur.

Baca Juga :  HKG PKK di Kepri, Tri Tito Karnavian Berkunjung ke Pulau Digital

Batam sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas yang telah dikembangkan secara khusus sejak lama oleh pemerintah pusat. Sedangkan Bintan sebagai daerah wisata dan industri. Sehingga menjadikannya banyak dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara.

Tanjungpinang yang pernah menjadi ibu kota Provinsi Riau dan Kabupaten Kepuluan Riau, sebut Gubernur Kepri Ansar Ahmad, sudah selayaknya berstatus sebagai kawasan heritage. Namun kawasan Kota Lama belakangan menjadi sepi seiring perluasan konsentrasi penduduk yang bergeser ke kawasan timur wilayah Kota Tanjungpinang.

“Hal inilah yang kemudian kita (Pemerintah Provinsi Kepri) memutuskan melakukan pembenahan terhadap Kota ini (Tanjungpinang). Termasuklah kawasan Kota Lama ini,” sebut Gubernur Kepri.

Namun, lanjut Ansar Ahmad, keterbatasan anggaran menjadikan pembenahan terhadap kota Tanjungpinang dilaksanakan secara bertahap. Revitalisasi di kawasan Kota Lama pada tahun 2023 ini, baru terbatas pada kawasan Jalan Merdeka dan Teuku Umar. Di tahun 2024 mendatang, penataan di antaranya difokuskan kepada penataan kabel yang dianggap menganggu estetika kota.

Baca Juga :  Tikung-menikung Sirkuit Jagal Politik 2024 (2), Siapa Bisa Menumbangkan Rudi?

“Pada tahun 2024 ini, kabel-kabel yang ada di Jalan Teuku Umar dan Jalan Merdeka ujung hingga Gedung Daerah kita turunkan. Keterbatasan penataan kabel ini mengingat biaya menurunkan kabel yang tidak murah,” sebut Ansar Ahmad.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad menegaskan, pada tahun 2024 ini penataan wilayah dan revitalisasi Kota Tanjungpinang disetop terlebih dahulu. Mengingat anggaran yang difokuskan untuk penyelenggaraan Pilpres, Pilkada dan Pileg.

“Di samping itu dana bagi hasil (DBH) yang turun karena fluktuasi harga minyak,” sebut Gubernur Kepri.

Namun, Gubernur Kepri Ansar Ahmad berharap, penataan Tanjungpinang sebagai ibu kota Kepri, dilanjutkan di tahun berikutnya. Beberapa wilayah di Kota Tanjungpinang diyakini memiliki potensi yang besar untuk mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar pula.

Ada beberapa wilayah Tanjungpinang, lanjut Gubernur Kepri, yang patut untuk ditata dan dikembangkan lagi. Di antaranya kawasan Pelantar II yang berpotensi dijadikan sebagai pusat oleh-oleh, termasuk pula Jalan Bintan dan Lorong Bintan. Pemprov Kepri sangat fokus untuk mengemas kawasan Kota Lama Tanjungpinang secara menyeluruh.

Baca Juga :  Komaruddin Reses, Warga Minta Penambahan Jaringan Air Bersih

“Ini sangat penting. Karena kawasan Kota Lama sangat menarik. Kemudian Pemprov Kepri juga fokus kepada penataan kawasan Gurindam 12,” sebutnya.

“Kita bersyukur di tahun 2024 ini, di sebelah Gedung LAM kita mendapat bantuan lebih dari Rp30 miliar untuk pengembangan ekonomi kreatif digital,” sambung gubernur.

Penataan kawasan Gurindam 12 menjadi fokus, termasuk penataan areal yang akan ditempati oleh pedagang. Kemudian, penataan Pulau Penyengat juga masih menjadi prioritas. Di tahun 2023 saja Pemprov Kepri mendapat bantuan sebesar Rp20 miiliar dari Pemerintah Pusat. Sebagian besar jalan di Pulau Penyengat rampung dibangun. Tahun depan akan dilanjutkan sebagian jalan, kemudian jalan lingkar, dan Balai Adat.

Gubernur juga sedang mengupayakan pembangunan Monumen Bahasa Nasional. Menteri Bappenas sedang berkomunikasi dengan Bapak Presiden untuk dapat hadir pada ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan Monumen Bahasa Nasional.

“Kita ini sebenarnya punya telur emas dan tinggal ditetaskan saja emasnya,” tutur Ansar Ahmad Gubernur Kepri. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *