banner 728x90
Wagub Kepri Nyanyang Haris Pratamura mendiskusikan soal ekspor ikan dari Natuna dan Anambas ke Hong Kong bersama Abdul Kadir Jailani Kemenlu RI. F- diskominfo kepri

Ekspor Ikan dari Natuna dan Anambas ke Hong Kong Mandek, Pemprov Kepri Cari Solusi Lewat Kemenlu RI

Komentar
X
Bagikan

Jakarta, suaraserumpun.com – Ekspor ikan dari Kabupaten Natuna dan Kepulauan Anambas (Kepulauan Riau) ke Hong Kong mandek, sejak beberapa waktu lalu. Pemprov Kepri mencari solusi lewat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus mengupayakan solusi atas terhentinya ekspor ikan hidup dari Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Natuna ke Hong Kong, yang kini telah memasuki bulan keempat.

Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura memimpin langsung beraudiensi dengan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Abdul Kadir Jailani, di Jakarta, Rabu (9/7/2025). Audiensi ini bertujuan meminta fasilitasi dan komunikasi diplomatik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) agar ekspor yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut bisa kembali normal.

Turut hadir dalam pertemuan tersebut Asisten II Setdaprov Kepri Luki Zaiman Prawira, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepri Said Sudrajat, perwakilan eksportir, dan Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kepri.

Wagub Kepri Nyanyang Haris Pratamura menyampaikan, penghentian ekspor ini telah berdampak serius terhadap pelaku usaha dan pembudidaya ikan di dua wilayah perbatasan tersebut, Natuna dan Anambas.

“Ekspor ikan hidup ini merupakan tulang punggung ekonomi nelayan di Anambas dan Natuna. Sudah puluhan tahun berlangsung, dan kini nelayan kita terancam kehilangan mata pencaharian. Kami berharap Kemlu dapat membantu menjembatani komunikasi dengan otoritas di Tiongkok dan Hong Kong,” kata Nyanyang Haris Pratamura Wagub Kepri.

Direktur Jenderal Aspasaf Kemenlu, Abdul Kadir Jailani, menyambut baik pertemuan ini dan menyatakan komitmen pihaknya untuk membantu secara maksimal.

“Kami akan segera menindaklanjuti melalui koordinasi dengan KBRI Beijing dan KJRI Hong Kong. Kita ingin menemukan solusi secepatnya agar kegiatan ekspor dapat kembali berjalan, termasuk membuka kemungkinan ekspor ke pasar alternatif,” ujarnya.

Sejak awal 2025, ekspor ikan hidup dari Anambas dan Natuna diketahui terhenti. Berdasarkan laporan, kapal berbendera Hong Kong yang biasanya menjemput langsung hasil budidaya ikan tidak lagi masuk ke perairan Indonesia, dengan alasan yang belum dikonfirmasi secara resmi. Rapat koordinasi sebelumnya menduga adanya pengetatan kebijakan perdagangan atau pembatasan impor dari pihak Hong Kong.

Situasi ini telah menyebabkan penumpukan stok ikan hidup yang tidak terserap pasar dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat pesisir. Alternatif distribusi lewat jalur udara sulit dilakukan karena keterbatasan kapasitas dan tingginya biaya operasional.

Pemerintah Provinsi Kepri melalui Gubernur Kepri Ansar Ahmad juga telah mengirim surat resmi kepada Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Luar Negeri RI, yang berisi permohonan percepatan penyelesaian masalah ini melalui diplomasi antarnegara dan kolaborasi lintas kementerian. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *