Bintan, suaraserumpun.com – Ribuan masyarakat dan para pejabat Bintan menghadiri tausiyah Ustaz Abdul Somad (UAS) pada penutupan MTQH ke-XIV tahun 2025 tingkat Kabupaten Bintan di Gedung Nasional Tanjunguban, Bintan Utara, Jumat (18/4/2025) malam. Di mata UAS, efisiensi anggaran tak berlaku untuk kegiatan lomba MTQ dan Hadis (MTQH). Begini penjelasan Ustaz Abdul Somad.
Pemerintah Kabupaten Bintan menggelar Tablig Akbar yang dibingkai dalam Halalbihalal Syawal 1446 Hijriah. Kegiatan ini juga disejalankan dengan Penutupan MTQH Ke-XIV tingkat Kabupaten Bintan. Tablig akbar ini menghadirkan Prof H Abdul Somad Lc, D.E.S.A, Ph.D atau yang lebih akrab disapa UAS dengan mengangkat tema Mewujudkan Generasi Cinta Alquran yang Beradab dan Bermartabat dalam Keharmonisan Kebersamaan.
Ribuan masyarakat yang hadir memadati kawasan Gedung Nasional Tanjung Uban. Seluruh jemaah begitu khusyuk mendengarkan syiar Islam yang sesekali dibalut dengan senda gurau oleh dai yang mendapat gelar Datok Seri Ulama Setia Negara itu.
Bupati Bintan Roby Kurniawan menyampaikan salam dan berterima kasih kepada ulama asal Riau tersebut. Dirinya berharap kehadiran UAS dapat menjadi salah satu asbab turunnya keberkahan untuk Bintan dan seluruh masyarakatnya.
“Terima kasih Pak Ustadz (Abdul Somad). Di tengah kesibukan dan padatnya jadwal, ustadz berkenan hadir memenuhi kerinduan kami. Untuk kesekian kalinya ustadz datang ke kampung kami, semoga ini jadi keberkahan untuk Kabupaten Bintan,” ungkapnya.
Pada saat menyampaikan ceramah, Ustaz Abdul Somad menyampaikan betapa pentingnya pendidikan Alquran sejak dini. Salah satunya lewat lomba Musabaqah Tilawatil Quran dan Hadist (MTQH). Mubalig yang pernah menimba ilmu di negeri Maghribi (Maroko) tersebut mengajak para orang tua agar memberikan pendidikan agama kepada anak.
“Tidak salah kalau kita punya anak yang sukses dunianya. Tapi ingat, anak yang pandai mengaji, ada hafalan Qurannya, dia lah yang menyejukkan hati kita di hari tua. Dia lah yang membimbing sakaratul maut kita dengan Alquran. Jangan sampai pula, anak-anak nanti membacakan Alquran buat orang tuanya pakai hape atau TikTok,” ucap UAS.
Lebih lanjut lagi UAS menjabarkan bahwa MTQH ini sejatinya memiliki banyak manfaat bagi kehidupan bermasyarakat. Tak sekeladar syiar Islam, MTQH juga dapat menjadi magnet bagi generasi muda yang saat ini tergerus dengan kefanaan dunia untuk kembali pada pedoman hidupnya.
Justru itu, bagi UAS, kebijakan efisiensi anggaran tak berlaku untuk menggelar lomba MTQ dan Hadis. Karena betapa penting dan besarnya manfaat lomba MTQ dan Hadist untuk generasi ke depan. Amal membaca Alquran serta amal jariyah pula yang akan menemani manusia saat berada di alam kubur, setelah kematian nanti.
Kepada seluruh qari/qariah, Hafidz/Hafidzah, Khat/Khattah dan para peserta yang berkompetisi dalam MTQH kali ini, UAS memberikan semangat moral agar semuanya semakin meningkatkan kemampuan. Bagi UAS, siapa pun yang memegang piala dan piagam, namun tetap gelar juara sesungguhnya terpahat di semua nama peserta.
“Kalian semua adalah juara, kalian juara anak-anakku. Karena kalian telah memuliakan Alquran. Walaupun ada yang tak mendapatkan piala,” tutur Ustadz Abdul Somad. (yen)
Editor: Sigik RS
