banner 728x90
Remo Pramodo membahas tentang toleransi beragama di Kota Tanjungpinang menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 dalam kegiatan Dialog Tokoh Lintas Agama yang dilaksanakan PANGLIMA Kepri di Km 12 Tanjungpinang, Senin (9/12/2024). F- dok/suaraserumpun.com

PANGLIMA Gelar Dialog Tokoh Lintas Agama Jelang Nataru 2024/2025, Bahas Isu Intoleransi di Tanjungpinang

Komentar
X
Bagikan

Tanjungpinang, suaraserumpun.com – Pengkajian Gemilang Kebijakan Publik dan Pemerintahan (PANGLIMA) Kepri menggelar dialog tokoh lintas agama menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru 2024/2025), Senin (9/12/2024). Dialog lintas agama yang dilaksanakan di Cafe Orang Roemah Jalan WR Supratman Km 12 Air Raja, samping Klinik Mata SMEC Tanjungpinang Timur ini membahas apakah ada isu intoleransi di Tanjungpinang.

Dialog Lintas Agama jelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 bertema Kolaborasi Tokoh Lintas Agama dan Generasi Muda untuk Memperkuat Kerukunan Umat Beragama di Kota Tanjungpinang. Kegiatan dilaksanakan oleh PANGLIMA (Pengkajian Gemilang Kebijakan Publik dan Pemerintahan) dengan penanggung jawab Suherry SSos.

PANGLIMA wadah generasi muda ini menjadikan kegiatan dialog tokoh Lintas Agama ini merupakan hal penting. Toleransi menjadi sangat penting di Kota Tanjungpinang, dan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Tanjungpinang sangat baik. Hal itu juga menjadi toleransi di KotaTanjungpinang. Justru itu, dibahas apakah ada intoleransi di Kota Tanjungpinang.

Acara yang berdurasi kurang lebih 1 jam setengah ini dihadiri perwakilan instansi pemerintahan, para tokoh lintas agama dan mahasiswa di Kota Tanjungpinang. Acara ini juga menjadi pedoman bagi generasi muda. Toleransi menjadi penting untuk bangsa dan negara. Tujuan dialog tokoh lintas agama ini bisa memperkuat hubungan toleransi beragama, menjelang Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. Acara ini dibuka oleh narasumber yaitu Romo Pramodo dan Kyai Supeno.

Dalam kegiatan dialog tokoh lintas agama ini, RM Pramodo selaku narasumber menyampaikan, isu intoleransi dan toleransi beragama ini di Tanjungpinang menekankan pentingnya silaturahmi. Contohnya dari tempat ibadah yang satu ke tempat ibadah lainnya.

“Sebenarnya banyak isu yang bisa memecah belah keragaman di Tanjungpinang ini. Namun isu-isu (intoleransi) ini dapat dihadapi, karena tingginya tingkat toleransi di Kota Tanjungpinang,” katanya.

RM Pramodo juga menambahkan, segala isu yang ada mengenai perbedaan agama di Kota Tanjungpinang, tidak menjadi sulit. Karena, sesama tokoh agama telah membangun hubungan dengan baik.

Pada kesempatan lain, Kyai Supeno menyampaikan, tantangan (intoleransi) bersama yang lakukan ini akan baik, dengan bersosialisasi kepada instansi dan mahasiswa. Pertama, kendala itu harus diberi pemahaman. Kedua, harus sering berkomunikasi. Ketiga, semua pihak harus bersyukur.

“Dalam menjaga kerukunan di Kota Tanjungpinang ini, masih sangat baik,” ungkapnya.

Dialog tokoh lintas agama yang digelar oleh Panglima ini dikemas dalam konsep yang santai. Namun, tetap membangkitkan semangat tiap peserta dalam menyampaikan pendapatnya.

Seperti yang disampaikan Ridho seorang mahasiswa yang menanggapi mengenai kebenaran yang diyakini tiap orang, dapat menjadikan mereka egois, serta memaksakan kehendaknya.

Dialog tokoh lintas agama ini diakhiri dengan deklarasi para tokoh lintas agama beserta para peserta dialog. Semua pihak berkomitmen mengenai toleransi beragama. Terutama dalam setiap perayaan agama atau hari besar agama. Agar tidak terjadi disinformasi atau intoleransi yang dapat menyebabkan perpecahan. Baik sesama agamanya maupun dengan agama lain. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *