banner 728x90
Kajari Bintan Andy Sasongko menyerahkan SK penghentian penuntutan (SKP2) kepada tiga terdakwa yang terkait dengan kasus curanmor di Tanjung Uban, Selasa (25/6/2024). F- kejari bintan

Kejari Bintan Menghentikan Kasus Curanmor Lewat Restorative Justice, Tiga Terdakwa Bebas

Komentar
X
Bagikan

Bintan, suaraserumpun.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Bintan telah menghentikan kasus curanmor lewat restorative justice (RJ), dengan terdakwa Fajar Agusti, Rangga Saputra dan Silvi. Kini, tiga terdakwa curanmor tersebut bebas dari tuntutan hukum, atas persetujuan dari korban Darmayanti.

RJ kasus curanmor ini dilaksanakan di Rumah Restorative Justice di Desa Toapaya Selatana, Kabupaten Bintan. Penyerahan SK penghentian penuntutan (SKP2) dilakukan oleh Kajari Bintan Andy Sasongko kepada tiga tersangka disaksikan oleh pihak keluarga korban dan perwakilan Polres Bintan. SKP2 tersebut sudah disetujui oleh Jaksa Muda Muda Tindak Pidana Umum.

Kasus curanmor ini berawal pada Senin (18/3/2024) sekitar pukul 11.00 WIB lalu. Saat itu Polres Bintan menerima laporan dari saksi korban Darmayanti. Dilaporkan sepeda motor jenis scoopy hilang dicuri, Jumat (15/3/2024). Kejadian perkara di Tanjung Uban Selatan, Bintan Utara.

Baca Juga :  Pemerintah Menjamin Keamanan dan Kenyamanan Selama Nataru, Ansar: Kuncinya, Taati Prokes

Awalnya, Billy seorang pria mendatangi terdakwa Fajar, Minggu (17/3/2024). Saat itu Billy meminta tolong kepada Fajar menjual sepeda motor jenis scoopy. Rabu (20/3/2024), Billy mendatangi Fajar lagi. Saat itu, Billy menyebutkan sepeda motor scoopy tersebut hasil curian dan tidak surat kendaraan.

Fajar pun menghubungi temannya terdakwa Rangga Saputra alias Apek. Fajar pun menawarkan scoopy dengan harga Rp3 juta. Rangga menawar seharga Rp2 juta. Setelah berbincang dengan Fajar, Rangga pun pergi menemui teman perempuannya terdakwa Silvi Tiara Putri. Kamis (21/3/2024) dini hari WIB, Rangga membawa uang senilai Rp2 juta, dan diserahkan kepada Rangga. Kemudian, Rangga menyerahkan uang tersebut diserahkan kepada Billy. Billy pun memberikan uang keuntungan penjualan sepeda motor sebesar Rp100 ribu kepada Fajar, dan Rp100 ribu kepada Rangga.

Baca Juga :  Pekan Depan, Pengukuhan Pengurus Iwakusi Tanjungpinang-Bintan, Plt Bupati Kuansing Ikut Hadir

Namun, pihak Polres Bintan berhasil menemukan sepeda motor curian milik korban Darmayanti tersebut. Serta mengamankan tiga orang tersangka. Fajar, Rangga dan Silvi. Sementara, Billy masih DPO. Setelah pelimpahan kasus curanmor dari Polres Bintan ke Kejari Bintan. Kini, kasus tersebut sudah dihentikan melalui RJ di Kejari Bintan.

Alasan pemberian penghentian penuntutan berdasarkan keadilan restoratif ini diberikan antara lain telah dilaksanakan proses perdamaian. Para tersangka telah meminta maaf, dan korban sudah memberikan permohonan maaf. Tersangka belum pernah dihukum. Tersangka baru pertama kali melakukan perbuatan pidana. Ancaman pidana denda atau penjara tidak lebih dari 5 tahun.

Baca Juga :  Ansar Ahmad Meresmikan Jalan Senilai Rp20 Miliar Penghubung Letung ke Kuala Maras, Masyarakat Anambas Puas

Tersangka berjanji tidak akan lagi mengulangi perbuatannya. Perdamaian dilakukan secara sukarela, dengan musyawarah untuk mufakat, tanpa tekanan, paksaan dan intimidasi. Tersangka dan korban setuju untuk tidak melanjutkan permasalahan ke persidangan. Karena tidak akan membawa manfaat yang lebih besar. Pertimbangan sosiologis dan masyarakat merespon positif.

Kajari Bintan Andy Sasongko menyebutukan, dasar hukum Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif adalah berdasarkan Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 dan Surat Edaran JAM-Pidum Nomor: 01/E/EJP/02/2022 tanggal 10 Februari 2022 tentang Pelaksanaan Penghentian Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif sebagai perwujudan kepastian hukum. (K.3.3.1).

“Semua proses untuk restorative justice kasus curanmor ini sudah dijalankan,” demikian Andy Sasongko Kajari Bintan. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *