Beranda All News Cerita Mubalig Bertugas di Hinterland, Sembilan Jam Mengarungi Lautan, Lanjutkan Program Ansar...

Cerita Mubalig Bertugas di Hinterland, Sembilan Jam Mengarungi Lautan, Lanjutkan Program Ansar Ahmad Ini

0
Mubalig hinterland memberikan pendidikan agama kepada anak di daerah pesisir dan pulau terpencil di wilayah Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan. F- istimewa/diskominfo kepri

Bintan, suaraserumpun.com – Lima puluhan orang mubalig ditugaskan di daerah pesisir dan pulau terpencil wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Beragam cerita dan pengalaman yang dijalani para mubalig. Ada yang mengarungi lautan selama sembilan jam dengan pompong. Meski demikian, mereka dan warga di pulau terpencil mengharapkan program mubalig hinterland yang dipelopori Ansar Ahmad Gubernur Kepri ini tetap dilanjutkan.

Odirman Hareva seorang mubalig yang ditempatkan di kawasan hinterland Provinsi Kepulauan Riau, sudah dua bulan bertugas. Pemuda 25 tahun asal Pulau Nias, Sumatera Utara ini menjalankan tugas sebagai mubalig hinterland di Desa Pengikik. Yaitu desa yang berjarak tempuh sekitar sembilan jam perjalanan laut, dari pusat Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan.

Kecamatan Tambelan sendiri adalah satu kecamatan terjauh dari sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Secara geografis kecamatan ini berdekatan dengan Pontianak Kalimantan Barat. Tambelan berjarak tempuh minimal 8-10 jam perjalanan laut dengan kapal feri (cepat) dari ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, Tanjungpinang. Jika menggunakan kapal perintis, menghabiskan waktu hampir 24 jam perjalanan.

Odirman Hareva menyatakan, jauhnya jarak tempat ia ditugaskan, tidak menghalangi niat menjalankan tugasnya sebagai dai atau mubalig.

“Ini tidak lain karena warga di sana (Desa Pengikik) sangat membutuhkan keberadaan ustaz,” kata Odirman ditemui di Tambelan, Sabtu ((7/5/2022).

Baca Juga :  Polresta Barelang Jawara Kapolda Kepri Cup, Ada Suporter Terbaik dan Tim Terheboh

Sudah tiga tahun Desa Pengikik tidak memiliki orang yang mengajarkan pendidikan agama.

“Mereka khawatir anak-anak mereka tidak tersentuh dengan pendidikan agama,” kata Odirman.

Warga berharap program mubalig hinterland tidak hanya berlangsung hanya satu tahun, namun berkesinambungan. Mayoritas penduduk Desa Pengikik di Kecamatan Tambelan yang bermata pencarian sebagai nelayan itu, mengakibatkan anak-anak yang ada di desa itu cenderung turut mengenyampingkan pendidikan, khususnya pendidikan agama.

Anak-anak di desa di pulau terpencil itu cenderung mengikuti kebiasaan orang tuanya. Disibukkan dengan mencari ikan di laut. Sehingga memunculkan kekhawatiran baru.

“Mereka (para orang tua) makin khawatir. Waktu mereka untuk keluarga sangat terbatas. Mereka khawatir karena tidak cukup waktu memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya,” papar Odirman.

Seibarat hujan, kehadiran mubalig di Desa Pengikik adalah apa yang diharapkan oleh warga setempat.

Salah seorang warga Pengikik, Suhardi (36 tahun) menyatakan kebahagiaannya. Ia berharap program Gubernur Kepri Ansar Ahmad ini dapat terus berlanjut.

Ia mengharap anak-anak di Desa Pengikik mendapat pendidikan agama. Sama halnya dengan anak-anak di daerah lain yang mudah dijangkau.

“Kami menginginkan anak-anak kami setara dengan anak-anak di tempat lain,” ujarnya.

Selama dua bulan bertugas, Odirman Hareva menyebut telah cukup banyak aktivitas yang telah dilakukan. Di desa itu, dia bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Memberikan pemahaman pentingnya pendidikan agama bagi setiap keluarga. Di sana ia juga mengajarkan anak-anak mengaji, serta ilmu fiqih. Yaitu salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang menjadi pedoman menjalankan aspek kehidupan manusia. Baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia dengan Allah.

Baca Juga :  Prarekonstruksi di TKP Kasus Polisi Tembak Polisi, Polri Berkomitmen untuk Pembuktian Ilmiah

Hal serupa juga disampaikan Frengky. Dai yang disapa ustaz Zaki ini juga melaksanakan aktivitas pendidikan agama Islam sebagaimana dilakukan Odirman Hareva. Sama seperti Odirman, sudah dua bulan ustaz Zaki berupaya meningkatkan ahlak warga di Desa Kukup Kecamatan Tambelan. Di desa ini dia mengajarkan anak-anak mengaji, ilmu fiqih dan juga mengajak warga di sana untuk meningkatkan ibadah.

Sama halnya Odirman, di desa ini ustaz Zaki disambut dan diterima warga dengan baik. Pemuda asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat ini juga menyatakan, warga menginginkan agar program mubalig hinterland berlanjut.

“Ini juga dikarenakan permasalahan yang ada di Desa Kukup cukup banyak untuk dipecahkan. Sehingga membutuhkan waktu yang tidak cukup hanya satu tahun,” pungkasnya.

Dalam sambutannya saat berkunjung ke Kecamatan Tambelan, Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad kembali menekankan pentingnya menempatkan dai di kawasan pelosok (hinterland).

Baca Juga :  Warga Protes Pembangunan Pertashop di Jalan Tanah Kuning Bintan Timur

Upaya ini ditegaskan Gubernur Kepri Ansar Ahmad untuk menjaga akidah masyarakat. Di antaranya diakibatkan minimnya pengetahuan agama serta permasalahan ekonomi yang tidak jarang mengakibatkan warga depresi dan putus asa.

“Cukup banyak kita mendapati berita mengenai peristiwa yang sangat miris belakangan ini, diakibatkan minimnya dasar agama dan terpuruknya ekonomi,” ujar Gubernur Kepri.

Hal inilah yang kemudian disebut mantan Bupati Bintan dua periode ini mendasari dirinya membuat program mubalig hinterland. Untuk tahun ini, sebanyak 50 mubalig ditempatkan di daerah perbatasan dan pulau-pulau terpencil di Provinsi Kepri. Para mubalig ini diikat dengan kontrak untuk menjaga akidah masyarakat di wilayah terpencil.

“Kita mendorong iman masyarakat di kawasan terpencil agar tidak goyah dalam situasi seprti ini,” harap Ansar Ahmad.

Selain bertugas memperkuat keimanan dan mental masyarakat, dai yang ditempatkan di kawasan terpencil ini juga ditugaskan mendata masjid atau musala yang kondisinya dianggap kurang layak.

“Kita juga fokus pada pembenahan masjid di pulau-pulau terpencil supaya masyarakat bisa beribadah dengan baik dan nyaman,” tambah Ansar Ahmad.

Menurut Ansar, program mubalig hinterland ini bukanlah ‘barang baru’. Program serupa telah dijalankan ketika dirinya masih menjabat sebagai Bupati Bintan.

“Kita perlu menjaga akidah masyarakat kita,” tutup Ansar Ahmad. (yen)

Editor: Sigik RS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here