Beranda All News Kakanwil Dirjen Bea dan Cukai Khusus Kepri Diminta Menutup Pelabuhan Tikus

Kakanwil Dirjen Bea dan Cukai Khusus Kepri Diminta Menutup Pelabuhan Tikus

0
Ansar Ahmad Gubernur Kepri berdiskusi tentang upaya penutupan pelabuhan tikus di Kepri dengan Akhmad Rofiq Kakanwil DJBC Khusus Kepri, Selasa (31/8/2021).

KEPULAUANRIAU (suaraserumpun) – Kepala Kantor Wilayah Dirjen Bea dan Cukai Khusus Kepri diminta menutup pelabuhan tikus, atau pelabuhan tak resmi di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Permintaan itu disampaikan Gubernur Kepri H Ansar Ahmad saat menerima kunjungan Akhmad Rofiq Kakanwil DJBC Khusus Kepri beserta rombongan di ruang kerja Gubernur Kepri, Dompak, Selasa (31/8/2021).

Dalam kegiatan silaturahmi ini turut hadir Kepala Kantor Bea Cukai Batam Ambang Priyonggo, dan Kepala Kantor Bea Cukai Tanjungpinang Syahirul Alim. Silaturahmi ini sekaligus perkenalan Akhmad Rofiq dan Ambang Priyonggo yang baru menjabat awal Agustus 2021 lalu.

Baca Juga :  Tepis Hoax, Ustaz Abdul Somad: Yayasan Wakaf Bukan Kado Pernikahan

Gubernur Ansar berterima kasih dan mengapresiasi inisiasi Kakanwil DJBC Kepri atas upaya menyambung sinergi yang selama ini telah terjalin. Semoga sinergi yang baik dan terus menerus ini sebagai upaya juga dalam percepatan penanganan Covid-19 di Kepri.

Gubernur Kepri Ansar Ahmad pun berharap, dilakukan upaya-upaya penutupan pelabuhan tikus (tak resmi) di wilayah Kepri, bisa dimaksimalkan. Hal ini diwujudkan dengan adanya kolaborasi Bea dan Cukai, Pemprov Kepri serta stakeholder lainnya.

“Ini memerlukan gerakan dan upaya besar, dan dukungan dari Kemenkeu. Khususnya DJBC Kepri. Kalau perlu, nanti akan kita bentuk Satgas,” harap Ansar Ahmad.

Baca Juga :  Menhub dan Gubernur Kepri Bahas Potensi Bisnis di Pulau Nipah

Akhmad Rofik memaparkan tugas DJBC secara umum sebagai aparat fiskus Kementerian Keuangan. Dengan salah satu tugasnya mengumpulkan penerimaan negara. Namun di lain hal, bahwa Kepri merupakan salah satu pintu masuk penyelundupan.

“Yang menjadi perhatian khusus adalah yang berkategori high risk seperti narkoba dan senjata. Serta komoditas-komoditas seperti benih lobster,” ungkap Rofiq. (SS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here