Beranda All News BP Batam Bikin MoU dengan Perusahaan Singapura, Memerlukan 3 Ribu Pekerja Lokal

BP Batam Bikin MoU dengan Perusahaan Singapura, Memerlukan 3 Ribu Pekerja Lokal

0
Kepala BP Batam menandatangani nota kerja sama dengan perusahaan Singapura dan dalam negeri secara virtual, Senin (19/7/2021).

BATAM (suaraserumpun) – Badan Pengusahaan (BP) Batam membikin nota kerja sama kesepahaman (MoU) pembangunan panel surya dengan Sunseap Group Pte Ltd, perusahaan dari Singapura. Nilai investasinya mencapai Rp29 triliun, dan memerlukan 3 ribuan pekerja lokal.

Selain itu, BP Batam juga membikin kerja sama awal atau Heads of Agreement (HoA) pengelolaan bandara di Batam. Kerja sama tersebut dibuat dengan dua perusahaan berbeda, Senin (19/7/2021).

BP Batam membikin MoU pembangunan panel surya bersama Sunseap Group Pte Ltd. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pembangunan panel surya ini, akan dioperasikan di Waduk Duriangkang. Penandatanganan MoU tersebut dilakukan secara virtual oleh Kepala BP Batam Muhammad Rudi, dengan Frank Phuan selaku Co-founder and CEO Sunseap Group Pte Ltd.

Penandatanganan dihadiri oleh Anggota Bidang Administrasi dan Keuangan Wahjoe Triwidijo Koentjoro, Anggota Bidang Kebijakan Strategis Enoh P Suharto, Anggota Bidang Pengelolaan Kawasan dan Investasi Sudirman Saad. Serta Anggota Bidang Pengusahaan Sjahril Japarin, dan Kepala Urusan Ekonomi Internasional BP Batam di Singapura Michael Goutama dan pejabat BP Batam lainnya.

Sunseap Group merupakan perusahaan penyedia energi bersih terbesar di Singapura, yang didirikan pada tahun 2011. Solusi surya Sunseap yang telah terbukti untuk mendiversifikasi portofolio energi melalui model dan strategi biaya yang kompetitif.

Dalam MoU ini, Sunseap akan menyediakan layanan satu atap untuk solusi energi bersih. Yang mencakup elemen-elemen seperti pendanaan, pengembangan, perancangan, teknik dan konstruksi tenaga surya dan pasokan listrik bersih.

Muhammad Rudi mengatakan, MoU dengan Sunseap Group yang merupakan perusahaan asal Singapura, dengan total investasi mencapai Rp29 triliun.

“Ke depannya, lapangan pekerjaan akan tercipta sekitar 3.000 pekerja lokal. Tidak hanyak Batam, tetapi juga Indonesia,” ujar Muhammad Rudi.

Sunseap Group akan memasang panel surya di genangan waduk dengan cara mengambang (floating). Nanti, hasil energinya akan diekspor ke Singapura, dan sebagian untuk Batam. Ini akan menjadi salah satu yang terluas di Asia Tenggara dan pertama di Batam.

Baca Juga :  Chelsea 0-1 Porto, The Blues Tetap ke Semifinal Liga Champions

Rudi mengatakan, proyek ini akan dilaksanakan pada tahun ini. Dimulai dengan persiapan perizinan dan kajian awal untuk implementasinya di genangan Waduk Duriangkang.

HoA Pengelolaan Bandara Batam

Usai penandatanganan MoU dengan Sunseap Group, BP Batam juga melakukan penandatanganan awal (Heads of Agreement) kerja sama pengelolaan desain, pembangunan, pembiayaan, pengalihan, pengoperasian, dan pemeliharaan, Bandara Hang Nadim Batam. HoA ini dilakukan BP Batam dengan Konsorsium PT Angkasa Pura I (Persero), Incheon International Airport Corporation (IIAC), serta PT Wijaya Karya Tbk (Persero) (Wika).

PT Wika selaku pemenang lelang pengadaan Badan Usaha Pelaksana Proyek Kerja Sama Pemerintah, dengan Badan Usaha (KPBU) Bandara Internasional Hang Nadim Batam dengan masa pengelolaan 25 tahun.

Muhammad Rudi Kepala BP Batam menandatangani MoU pembangunan panel surya dengan perusahaan dari Singapura dengan nilai investasi Rp29 triliun.

Penandatanganan dilakukan secara virtual oleh Kepala BP Batam Muhammad Rudi dengan Pimpinan Konsorsium, yaitu Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I (Persero) Devy Suradji selaku PTS. Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) dan disaksikan oleh President and CEO Incheon International Airport Corporation Kyung-Wook Kim, dan Direktur Human Capital dan Pengembangan PT Wijaya Karya Tbk. (Persero) Mursyid, yang mewakili Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk. (Persero) Agung Budi Waskito.

Penandatanganan ini dilakukan dalam rangka memperkuat komitmen dan menunjukkan itikad baik dari para pihak terkait dalam mewujudkan terlaksananya kerja sama tersebut. Saat ini, BP Batam dan konsorsium tengah melaksanakan proses yang dibutuhkan dan disyaratkan sesuai dengan hak, tugas dan tanggung jawab masing-masing, untuk dapat melaksanakan proyek kerja sama ini.

Pada kerja sama ini, BP Batam akan menyediakan seluruh area dan/atau wilayah operasional Bandara Hang Nadim Batam sebagai wilayah kerja yang akan dipergunakan konsorsium untuk dikelola dan dikembangkan. Sementara itu, Konsorsium Angkasa Pura I, IIAC, dan Wika bertanggung jawab terhadap penyediaan desain, melaksanakan pembangunan, pembiayaan, pengalihan, pengoperasian dan pemeliharaan Bandara Hang Nadim Batam.

Baca Juga :  Vaksinasi Covid-19 Jadi Sasasaran TMMD ke-111 Kodim 0315/Bintan di Lingga

Setelah penandatanganan HoA ini, konsorsium akan menyelesaikan pendirian Badan Usaha Pelaksana (BUP) dan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) dengan BP Batam.

Kepala BP Batam Muhammad Rudi berharap, dengan dilaksanakannya pengembangan dan pengelolaan Bandara Hang Nadim dengan skema KPBU, akan memperbarui. Dan membangun Bandar Udara Hang Nadim agar mengoptimalkan kebutuhan arus keluar-masuk barang. Bagi kelancaran perindustrian di Batam. Serta dapat mengelola bandara lebih profesional. Sehingga mendukung Batam sebagai hub logistik, memberikan multiplier effect. Dan dapat membuka penerbangan internasional dan mendorong percepatan pemulihan ekonomi.

Kemenangan konsorsium Angkasa Pura I dalam seleksi pengelola Bandara Hang Nadim Batam ini merupakan milestone penting bagi perusahaan. Hal ini merupakan pertama kalinya, perusahaan memenangkan persaingan di antara para pelaku kunci industri bandar udara lainnya. Baik nasional maupun global, untuk mengelola bandara potensial.

“Hal ini juga merupakan pengakuan terhadap kapabilitas dan kualitas Angkasa Pura I sebagai perusahaan pengelola bandara terpercaya,” ujar Plt Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Devy Suradji.

Dengan Angkasa Pura I sebagai pemenang tender pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam ini, lanjut Devy Suradji, maka ke depannya, Angkasa Pura I memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kontrak kerja sama pengelolaan bandara-bandara potensial lainnya, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tender pengelolaan Bandara Hang Nadim, di mana Angkasa Pura I sebagai pemenang, otomatis menambah portofolio dan jaringan pengelolaan bandara perusahaan, sehingga total bandara yang dikelola Angkasa Pura I menjadi 16 bandara.

Baca Juga :  Ansar Ahmad Bikin Kebijakan Khusus bagi ASN yang Emoh Divaksin

Sementara itu, President and CEO Incheon International Airport Corporation (IIAC) Kyung-Wook Kim mengatakan, Indonesia adalah salah satu mitra utama pihaknya, dalam konteks kebijakan baru pemerintah Korea Selatan.

“Selain mendorong komunitas bisnis Korea Selatan untuk mengeksplorasi peluang baru di Indonesia, kontrak tersebut memungkinkan kami untuk berbagi keahlian kami dalam pengoperasian bandara dengan tujuan untuk mengubah Bandara Batam menjadi hub regional,” jelasnya.

Direktur Utama PT Wijaya Karya (Wika) Agung Budi Waskito mengatakan, kesempatan dan tantangan bisnis infrastruktur kebandaraan kian nyata untuk ke depan. Bandara telah bergerak maju menjadi suatu kawasan yang sangat vital, sebagai episentrum sistem transportasi udara, sebagai pintu gerbang utama suatu negara, dan juga wujud kebanggaan teknologi bangsa.

“Wika siap mendukung sinergi, strategi, dan investasi berskala global dalam hal kebandaraan. Dengan memperhatikan perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup dari masyarakat sekitar,” ujar Agung Budi Waskito.

Dalam pengelolaan Bandara Hang Nadim Batam, anggota Konsorsium Angkasa Pura I memiliki perannya masing-masing. Sebagai pemimpin konsorsium, Angkasa Pura I akan bertanggung jawab dalam hal manajemen operasional dan komersial secara umum. Sementara itu, IIAC memiliki kewajiban dan tanggung jawab dalam hal pemasaran dan strategi pengembangan bandara secara umum. Sedangkan Wika selaku BUMN bidang konstruksi yang terintegrasi dengan industri pendukungnya, memiliki tanggung jawab dalam hal manajemen infrastruktur bandara.

Ke depannya, Bandara Hang Nadim akan dikembangkan untuk menjadi hubungan destinasi penerbangan yang lebih luas dan hubungan logistik. Serta kargo di wilayah barat Indonesia. Lokasi Bandara Hang Nadim Batam yang cukup strategis di regional Asia Tenggara. Ketika berdampingan dengan pelabuhan kargo dan kawasan industri, akan membuat bandara ini cocok untuk dijadikan pusat logistik. (SS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here