Beranda All News Hapuskan Kasus Stunting, Anak Berusia 12-18 Tahun Sudah Bisa Divaksin

Hapuskan Kasus Stunting, Anak Berusia 12-18 Tahun Sudah Bisa Divaksin

0
Ketua PKK Kepri Hj Dewi Kumalasari dan Ansar Ahmad Gubernur Kepri mengikuti peringatan Harganas, sekaligus peluncuran vaksinasi ibu menyusui dan anak berusia 12-18 tahun melalui virtual.

KEPULAUANRIAU (suaraserumpun) – Pemprov Kepri menargetkan dan bertekad mencapai angka zero (nol) atau menghapuskan kasus stunting, pada tahun 2024 mendatang. Kini, anak berusia 12-18 tahun sudah bisa divaksin Covid-19.

Target optimis menghapuskan kasus stunting di Kepri ini dinyatakan Gubernur Kepri Ansar Ahmad, baru-baru ini. Sebab, Kepri telah berhasil menurunkan kasus stunting 16 persen, pada tahun 2019 lalu. Tekad yang sama juga diungkapkan Ketua PKK Kepri Hj Dewi Kumalasari.

Stunting, lanjut Dewi Kumalasari, menjadi perhatian serius baginya. Stunting tidak hanya menghambat tumbuh kembang anak karena kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama tetapi juga bisa menghambat kemajuan pembangunan yang bertujuan mensejahterakan masyarakat.

“Untuk itu berbagai program terus kami gesa mulai dari pendampingan, gerakan makan ikan, dan kampanye jangan nikah usia muda, jangan dekat jarak kelahiran dan jangan lahiran di usia tua,” jelas Dewi Kumalasari, usai mengikuti Acara Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-28 tahun 2021, Selasa (27/6/2021).

Baca Juga :  Viral! Ada Pejabat Pemkab Bintan Minta Mundur dari Jabatan

Kegiatan ini, sekaligus peluncuran vaksinasi Covid-19 bagi ibu hamil dan menyusui serta anak berusia 12-18 tahun secara daring, di Graha Kepri Batam. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin.

Menurut Dewi Kumalasari, target kampanye pencegahannya difokuskan pada pulau-pulau terdepan dan terluar. Stunting (kasus kerdil) adalah gagal tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka waktu lama. Saat ini, Kepri menjadi provinsi terbaik kedua penurunan kasus stunting, setelah Bali. Karena itu, dengan peran semua pihak, target zero stunting bisa dicapai.

“Dalam kesempatan ini kita sampaikan juga, anak yang berusia 12-18 tahun sudah bisa divaksin Covid-19. Kita tunggu arahan dari pusat,” tambah Dewi Kumalasari.

Baca Juga :  Presiden RI Jokowi Minta Perubahan Program Studi Kurikulum

Wapres Ma’ruf Amin dalam sambutannya menyampaikan, peringatan Harganas dilakukan pemerintah sebagai usaha untuk mengingatkan masyarakat, bahwa pentingnya peran keluarga.

“Semua program stunting dan program pembangunan lainnya tidak akan berhasil jika tidak dibantu dari keluarga,” ungkap Wapres RI Ma’ruf Amin.

Untuk pengendalian stunting di seluruh Indonesia, BKKBN diminta untuk terlibat aktif dan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, organisasi sosial kemasyarakatan.

Semua layanan di lapangan yang dibuat untuk pengendalian stunting harus tepat sasaran dan harus dirasakan langsung bagi sekelompok masyarakat yang menjadi target. Wapres menyebutkan target pemerintah, percepatan penurunan stunting bisa mencapai 14 persen, pada tahun 2024.

Wapres juga menegaskan kepada seluruh keluarga, meski pandemi tengah berlangsung, pemerintah memastikan layanan gizi ibu hamil dan balita dijamin tetap terpenuhi.

Tidak lupa juga meminta setiap keluarga berperan aktif dalam menerapkan kedisiplinan 5M, selama masa pandemi. Mengajak setiap keluarga untuk membantu suksesnya pelaksanaan vaksinasi sesuai targer presieden yakni 1-2 juta vaksinasi sehari. Termasuk vaksinasi pada ibu hamil menyusui dan anak berusia 12-18 tahun. Terakhir Wapres meminta setiap keluarga untuk tidak berputua asa dalam melewati pandemi Covid-19 ini.

Baca Juga :  Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 Nasional Mencapai 92,2 Persen, Bintan Baru 80,4 Persen

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam sambutannya menyebutkan, Harganas diperingati di secara nasional sebagai bentuk refleksi pentingnya institusi terkecil dalam suatu masyarakat yakni keluarga.

Suatu bangsa atau masyarakat luas tidak akan memiliki populasi yang produktif jika keluarganya tidak berkualitas. Hal itu karena generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, kreatif dan produktif akan lahir dari keluarga yang berkualitas. Maka itu, selain aspek jasmani, anak-anak dalam satu keluarga juga dibekali dengan pendidikan yang berkualitas sebagai modal membangun bangsa. (SS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here