banner 728x90

Tokoh Pers Wina Armada dalam Kenangan

Komentar
X
Bagikan

Oleh: Mario Abdillah Khair (Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Riau & Ahli Pers Dewan Pers)

TOKOH pers Indonesia, Wina Armada meninggal dunia, Kamis (3/7/2025) sore. Wina tutup usia pada umur 65 tahun. Kabar duka ini disampaikan rekan sejawat, Arif Supriyono, di grup WhatsApp (WA) Ahli Pers Dewan Pers. Duka dan doa pun mengalir deras untuk almarhum Wina dan keluarga.

Dalam keheningan yang sedih, kehilangan senior, mentor panutan, sahabat, dan teman berdiskusi teringat kembali banyak kenangan berkesan dengan Bang Wina Armada.

Mengenal Nama Almarhum sejak Kelas 3 SD
Saya sudah mengenal nama Wina Armada ketika masih duduk kelas 3 SD tahun 1986. Sebagai anak wartawan, saya termasuk beruntung. Setiap hari ayah membawa pulang sedikitnya 5 koran harian. Tiga yang terbit di Medan; Waspada, Analisa, dan Mimbar Umum. Dua lagi terbitan Jakarta; Kompas dan Prioritas. Sebenarnya koran-koran itu milik kantornya ayah. Tapi boleh dibawa pulang.

Almarhum ayah saya, Saun Achmad Saragih, pernah bercerita. Semua redaktur dan wartawan Surat Kabar Harian Sinar Indonesia Baru (warga di Sumatra Utara menyebutnya ’SIB’) diwajibkan oleh pemilik sekaligus pemimpin redaksinya, Dr GM Panggabean, untuk membaca 5 surat kabar harian tadi.

Jika Kompas dan Prioritas dijadikan rujukan isu-isu nasional, maka 3 koran Sumut yang notabene ”kompetitor” SIB harus dibaca untuk mengetahui keunggulan liputan koran-koran itu setiap harinya.

”Jangan sampai ada isu menarik yang tak dimuat di SIB, tapi terbit di Analisa, Waspada, atau Mimbar Umum. Kalau ada isu yang ’bobol’, pasti redaktur dan wartawan kena damprat Pak GM dan tak jarang diskors,” tutur ayah suatu ketika.

Karena setiap hari membaca Prioritas, nama-nama pengelola dan penulis artikel di koran itu, jadi familiar di benak saya. Salah satunya, Wina Armada.

Perdana Bertemu Wina Armada
Secara fisik, saya baru mengenal beliau 18-19 tahun kemudian. Seingat saya tahun 2004. Saat itu saya baru sehari dipercaya menjadi salah satu ketua seksi di kepengurusan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Riau (sekarang tidak lagi ada istilah ’cabang’). Jumlah kepengurusan pun masih sangat ramping, cuma 24 personel.

Ketika itu beliau tengah berada di Pekanbaru. Kehadiran almarhum yang baru setahun menduduki kursi Sekretaris Jenderall (Sekjen) PWI periode 2003-2008, mendampingi Ketua Umum (Ketua Umum) PWI Tarman Azzam (sudah almarhum) membuka dan menutup Konferensi Cabang PWI Riau di Hotel Pangeran.
Kali pertama menyalami beliau, saya menilai almarhum pribadi yang ramah dan rendah hati. Seperti bermimpi, tapi nyata. Bisa bertemu langsung dengan sosok yang karya-karyanya sudah saya baca ketika saya masih bocah.

Perasaan hati makin senang tatkala beliau berkenan memberikan dua nomor telepon seluler (ponsel)-nya, ketika saya minta. Usai pertemuan perdana itu, seingat saya kami tak pernah lagi bertemu. Namun, sekali dua pekan atau mininal sekali sebulan, saya selalu bertanya kabar beliau lewat SMS (short message service).

Bertemu di Kongres XX PWI di Aceh
Kami bertemu lagi empat tahun kemudian di Aceh. 28 Juli 2008. Saat itu provinsi yang sekarang dipimpin Muzakir Manaf (Mualem) jadi tempat pelaksanaan Kongres XX PWI. Lokasinya di Hotel.Hermes.

Sebagai Sekretaris PWI Riau 2008-2012, saya ikut menjadi peserta kongres bersama Ketua PWI dan Dewan Kehormatan Daerah (sekarang sudah berubah jadi ’Dewan Kehormatan Provinsi’).

Ketika kongres berlangsung, saya baru beberapa hari resmi menjabat sekretaris. Saat itu, usia saya baru 30 tahun 1 bulan dan 2 hari.

Status sebagai ’peserta’ membuat saya berperan aktif dan menyaksikan langsung dinamika kongres XX yang dipimpin oleh Presidium Sidang, Basril Basyar dan kawan-kawan. Pada masa itu, Uda Basril masih menjabat Ketua PWI Sumatra Barat.

Dalam beberapa kesempatan baik saat pembahasan rancangan tata tertib, sidang komisi, hingga sidang pleno, saya sempat beradu konsep dengan nama-nama tersohor dari provinsi lain. Di antaranya; Djoko Tetuko (PWI Jawa Timur), Sasongko Tedjo (tempo hari Ketua PWI Jawa Tengah/sekarang Ketua DK PWI Pusat), dan Kamsul Hasan (almarhum/Ketua PWI Jakarta).

Di kemudian hari, rekan-rekan yang merupakan lawan berdebat saya di kongres XX, akhirnya jadi kawan berpikir untuk sama-sama membesarkan PWI. Walau jika bersua di Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) PWI, pasti berdebat lagi.

Saya tidak tahu apa yang menjadi alasan pada Konkernas 2009 di Palembang saya diusulkan masuk Tim Perumus Komisi A (Bidang Organisasi) mewakili PWI luar Pulau Jawa. Empat rekan lain yang didapuk jadi perumus yakni; Sasongko Tedjo (Jawa Tengah), Mirza Zulhadi (kala itu Ketua PWI Jawa Barat/beberapa waktu kemudian jadi Sekjen PWI), Djoko Tetuko (Jawa Timur), dan Kamsul Hasan (Jakarta).

Mungkin sudah suratan tangan. Dari kami berlima, cuma saya yang kedudukannya (saat itu) di PWI provinsi sebagai orang nomor dua (sekretaris). Semua rekan-rekan tadi kalau tidak Ketua PWI, pasti Ketua DKD. Dan, semua sudah pula merasakan jadi fungsionaris PWI Pusat di era Ketum Margiono, Ketum Atal, Ketum Hendry Ch Bangun, serta Ketum Zulmansyah Sekedang. Kecuali saya. Hehehe.

Di sela-sela kongres, ada beberapa momen kebersamaan saya bersama almarhum Bang Wina. Salah satunya, beliau berharap namanya dapat dipertimbangkan menjadi calon ketua umum yang diusulkan Riau.

Meski akhirnya kongres dimenangkan oleh Margiono (sudah almarhum), beliau terlihat tak berkecil hati. Figur lain yang ikut bersaing berebut kursi ketua umum yakni; Parni Hadi (mantan Sekjen PWI era Pak Sofjan Lubis), Dhimam Abror (Ketua PWI Jawa Timur), dan Muchyan AA (almarhum/Ketua PWI Sumut).

Pascakongres, kami semakin sering berkomunikasi lewat ponsel. Sebagai Anggota Pers dua periode (2004-2007 dan 2007-2010), sudah mafhum kalau agenda beliau padat. Diundang sebagai narasumber di berbagai tempat

Tunjuk Saya Jadi Moderator Kegiatan Dewan Pers
Tahun 2009 Dewan Pers menggelar kegiatan semacam ’workshop’ di Hotel Grand Elite Pekanbaru. Satu pekan sebelum acara beliau menghubungi saya. Meminta saya sebagai moderator kegiatan tersebut.

Meski kaget, karena merasa belum layak dan masih banyak rekan-rekan wartawan yang lebih cakap di Riau, saya tak kuasa menolak permintaan beliau.

Setelah memberi pengantar singkat, beliau langsung menyampaikan harapannya.

”Sobat Mario, saya yakin Anda sosok yang tepat untuk jadi moderator dalam sesi saya. Sampai jumpa pekan depan ya,” ujar almarhum dari sambungan telepon.

Beberapa saat saya tertegun setelah percakapan di telepon berakhir. Apa saya mampu memandu diskusi yang pembicaranya seorang tokoh pers bernama Wina Armada Sukardi?

Namun ada juga perasaan terharu dan bangga. Dari ratusan wartawan di Riau (sekarang mungkin jumlahnya ribuan), saya ’dipilih’ dan bakal duduk bersanding dengan sosok besar yang namanya sudah familiar sejak saya kecil.

Pada hari ”H” digelarnya acara, saya baru tahu ternyata workshop itu berlangsung 2 sesi. Pada kesempatan pertama pembicaranya adalah Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Mas Bambang Harymurti dan moderatornya Pak Rida K Liamsi (saat itu CEO Riau Pos Group dan “raja koran” Sumatra).

Saya bersyukur ketika ditelepon Bang Wina, tidak menolak tawarannya. Karena terrnyata, tokoh sekelas Pak Rida pun ’bersedia’ menjadi moderator. Dari acara itu, komunikasi kami pun semakin intens.

2010, Saya Diajak Beliau Ikut Pelatihan Ahli Pers Dewan Pers (Angkatan Pertama) di Batam

Sepertinya workshop itu jadi pembuka jalan saya berkiprah dalam kegiatan pers. Soalnya, beberapa bulan sebelum beliau mengakhir masa tugas sebagai Anggota DP periode kedua pada 2010, saya dihubungi oleh staf DP untuk menyiapkan berkas dan waktu mengikuti ’Pelatihan Ahli Pers Dewan Pers angkatan pertama’ di Batam, Kepulauan Riau.

Kata staf tadi, dia diminta menghubungi saya atas ‘instruksi’ dari Pak Wina. Kadang saya berpikir, apa Bang Wina ini enggak salah pilih orang? Padahal komunikasi kami wajar-wajar saja. Normal. Beliau tahu saya bukan tipe ”ambil muka”.

2016, Saya Undang Beliau Jadi Narasumber Worskshop di Pekanbaru

Suatu ketika, di tahun 2016, saya undang beliau ke Pekanbaru. Almarhum saya minta menjadi narasumber ’Workshop Jurnalistik Potretnews.com’. Sebelum akhirnya terlaksana, kegiatan itu harus diundur beberapa kali karena kami menyesuaikan dengan waktu beliau yang sedang menguji UKW di berbagai provinsi.

”Koper saya banyak pakaian kotor, Sobat Mario. Saya belum sempat kembali ke rumah,” ujarnya sambil tertawa saat saya baru menjemputnya di bandara.

Saya memang berhasrat beliau hadir berbagi pengalaman kepada peserta yang mayoritas berlatar pers kampus. Apalagi beliau ’konseptor’ sekaligus Ketua Tim Perumus Standar Kompetensi Wartawan (SKW) yang ditetapkan Dewan Pers.

Sengaja, saat workshop, beliau saya duetkan dengan Hermanto Ansam, pendiri sekaligus CEO GoRiau.com. Media siber luar Jakarta ini pernah masuk dalam 100 besar media siber Indonesia versi Alexa. Hadir juga waktu itu Pak Akam Sophian, wartawan senior dari Sumut.

Tahun 2021 saya ’cuti’ dari dunia kewartawan dan perusahan pers karena terpilih sebagai Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Riau. Namun, komunikasi saya dengan beliau tetap terjalin.

Almarhum Dinobatkan sebagai Duta Keterbukaan Informasi oleh KI Pusat bersama Prof Mahfud MD

Awal Mei 2023, beliau mengabarkan akan ke Riau. Saya pun sengaja menunda kegiatan di luar kota. Semula saya kira beliau akan mengisi acara di sebuah workshop atau seminar terkait pers.

Tapi ternyata, kedatangan beliau di provinsi berjuluk Bumi Lancang Kuning ini pada 17 Mei 2025 untuk dinobatkan sebagai Duta Keterbukaan Informasi oleh Komisi Informasi (KI) Pusat.

Selain almarhum, ‘gelar’ yang sama juga disematkan kepada Prof Mahfud MD (saat itu Menko Polhukam) dan Titi Anggraini (aktivis pemerhati pemilu).

Usai penobatan, sore hari kira-kira jam 16.30, beliau kirim pesan WA. Tanya, apakah saya punya agenda di malam hari? Saat itu saya dan Datuk Falzan Surahman (masih menjabat Ketua KPI Daerah Riau) lagi minum kopi bersama Anggota KPI Pusat Muhammad Hasrul Hasan. Hasrul yang akrab disapa Ogi hadir ke Pekanbaru juga dalam rangka memenuhi undangan KI Pusat.

Sebenarnya malam itu saya ada jadwal antar-jemput anak latihan taekwondo. Tapi saya bilang ke Bang Wina bahwa agenda saya malam hari kosong. Saya berpikir biarlah berbohong karena almarhum tidak sering datang ke Pekanbaru. Sementara, urusan antar-jemput bisa digantikan oleh anggota keluarga yang lain.

Petangnya beliau saya jemput ke hotel. Saya ajak keliling ke beberapa kawasan di Kota Pekanbaru. Saya ajak beliau makan malam di salah satu tempat. Kami berbincang cukup lama. Topiknya beragam. Mulai soal PWI, Dewan Pers, kasus-kasus sengketa pers, UKW, KPI, dan lain-lain.

Dalam perbincangan malam itu, beliau bertanya mengapa saya tidak jadi Penguji UKW. Lantas saya jawab, bahwa sejak dinyatakan kompeten pada UKW angkatan pertama Juni 2021 di Hotel Furaya Pekanbaru, saya memang tidak pernah menyodorkan diri atau diusulkan sebagai calon penguji.

Mendengar penjelasan itu, almarhum tertegun. “Harusnya Sobat Mario masuk dalam skuad penguji. Karena ketika saya masih di Dewan Pers, peraih nilai tertinggi jenjang Utama diprioritaskan jadi calon penguji. Itu sebagai apresiasi kepada mereka,” tuturnya.

Almarhum melanjutkan, selain diprioritaskan mengikuti ToT (Training of Trainers atau pelatihan untuk pelatih), ada konsensus di internal DP di eranya, peraih nilai tertinggi UKW juga diberi ”nomor cantik” pada kartu UKW-nya.

Seketika saya pun ingat nomor kartu UKW saya yang relatif gampang diingat; 2888-PWI/WU/DP/VI/2012/26/06/78. Saya tidak tahu, apakah itu termasuk nomor cantik atau tidak. Namun memang, saat UKW angkatan pertama pada Juni 2012, nilai saya tertinggi dari semua peserta jenjang Utama.

”Nanti akan saya sampaikan kepada ketum (Atal) agar pola rekrutmen penguji disempurnakan kembali. Peraih nilai tertinggi harus diberi atensi khusus untuk mendi calon penguji,” ujar almarhum.

Ketika itu beliau memang tercatat sebagai Staf Khusus Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari. Saya tidak tahu apakah hal itu jadi disampaikannya ke Ketum Atal.

Meski 9 Februari lalu saat perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Pekanbaru saya bertemu almarhum dan juga Ketum Atal, saya tidak menyinggung soal itu. Apalagi sejak PWI diterpa ”badai”, pelaksanaan UKW gratis sokongan Dewan Pers dihentikan. Otomatis semua pengujinya juga harus beristirahat untuk sementara waktu.

Dapat Kabar Almarhum Kena Serangan Jantung
Pada 24 Juni malam kira-kira pukul 21:25 WIB, tokoh pers asal Sumut Datok Ronny Simon (80), mengabari saya bahwa Bang Wina Armada masuk rumah sakit karena serangan jantung.
Info tentang sakitnya beliau saya sampaikan ke grup WA keluarga. Di internal keluarga kami, beliau sangat familiar. Karena selain pernah saya kenalkan, ada momen yang setiap tahun almarhum mengirim fotonya lagi pose bertiga bersama dua bere (keponakan) saya (Muhammad Abbyasha Fattah Kurniawan dan Syifa Nurshadrina Kurniawan). Sepertinya beliau sudah menyetel tanggal pengingat momen itu. Setiap tahun selalu mengirim foto tersebut. Di bawah foto ditulis keterangan: ’ini momen setahun lalu’, ’ini momen 2 tahun lalu’, dan seterusnya.

Selalu Tanya Kabar Keponakan Saya
Tidak sekadar berkirim foto kenangan, beliau juga tanya kabar dua keponakan: “Bagaimana kabar ‘anak-anak saya’. Sudah kelas berapa sekarang?” Almarhum senang tatkala saya kabarkan bahwa keponakan laki-laki akan menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri Plus (sekolah unggulan), pada tahun 2025. Dan, keponakan perempuan di tahun yang sama akan melanjutkan ke pesantren jenjang SMA.

Percakapan saya dan beliau disertai foto kenangan tadi, selalu pula saya screenshot ke grup WA keluarga. Keponakan senang dan bangga. Ada tokoh besar yang tidak ada pertalian darah rutin bertanya kabar mereka.

Namun, mulai tahun ini kiriman foto kenangan itu tidak akan pernah datang lagi. Karena si pengirim telah kembali ke Sang Pemiliknya.

Baru hari ini saya mencoba menguatkan merangkai kata demi kata mengenang interaksi hangat dengan sosok yang telah berkontribusi besar di bidang pers, hukum, dan perfilman Indonesia.
Tokoh yang pernah memimpin koran legendaris dan menulis banyak buku pers, advokat, sekaligus ’Juri Tetap’ Festival Film Indonesia (FFI) di masanya.

Saya kehilangan kata-kata terbaik untuk mengungkapkan kebaikan Abangnda/Bapak Wina yang sudah saya anggap sebagai abang/orang tua sendiri. Kata-kata apa pun rasanya tidak sanggup menggambarkan hubungan kami dalam rentang waktu 15-16 tahun.

Selamat jalan Abangnda Haji Wina Armada. Semoga Allah memberimu tempat terbaik. Al-Fatihah. (***/suaraserumpun.com)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *