banner 728x90
Zaky Firmansyah Kepala Kantor Bea Cukai Kota Batam menjelaskan kronologi penangkapan sepasang kekasih dan sembilan tersangka penyelundupan sabu seberat 10 kilogram lebih narkotika jenis sabu. F- ist

Sepasang Kekasih Bawa Sabu 2,24 Kilogram dengan Citilink, Sembilan Orang Ditangkap Bea Cukai Batam

Komentar
X
Bagikan

Batam, suaraserumpun.com – Bea Cukai Batam menggagalkan penyelundupan 10,95 kilogram sabu di Bandara Internasional Hang Nadim Batam dan hotel tempat menginap sindikat atau jaringan narkotika. Penangkapan sembilan orang tersangka bermula dari sepasang kekasih yang membawa sabu 2,24 kilogram dengan pesawat Citilink, tujuan Batam ke Jakarta hingga ke Kendari. Sepasang kekasih ini nekat membawa sabu dengan menggunakan pesawat karena tergiur upah sebesar Rp50 juta.

Tim Gabungan Bea Cukai Batam bersinergi bersama Polresta Barelang dan Polsek Bandara Hang Nadim, berhasil membongkar upaya penyelundupan narkoba dari dua lokasi berbeda. Yakni di Bandara Internasional Hang Nadim dan sebuah hotel di kawasan Jodoh, Batam. Dalam penindakan ini, petugas berhasil mengamankan total barang bukti sejumlah 10.955 gram methamphetamine (sabu).

Kepala Kantor Bea Cukai Batam, Zaky Firmansyah menjelaskan, penindakan pertama dilakukan pada Kamis (23/1/2025) di Bandara Internasional Hang Nadim terhadap sepasang kekasih, laki-laki berinisial RD (28) dan perempuan AM (24) dengan modus disembunyikan melalui barang bawaan penumpang.

Petugas Bea Cukai dan AVSEC mulanya mengidentifikasi 4 bungkusan mencurigakan dalam masing-masing koper yang teridentifikasi milik kedua orang tersebut. Atas dasar kecurigaan tersebut petugas kemudian mencari keberadaan pemilik koper dan ditemukan kedua penumpang duduk berdampingan dan sedang berangkulan.

Kedua penumpang tersebut awalnya tampak gelisah dan menghindari interaksi dengan petugas. Namun petugas kemudian mendekati dan mengamankan kedua penumpang tersebut. Petugas kemudian mengarahkan mereka menuju ruang rekonsiliasi untuk dilakukan pemeriksaan secara mendalam. Kedua penumpang mengaku hendak pergi liburan dan tidak membawa bungkusan apapun dalam koper. Petugas melanjutkan pemeriksaan terhadap barang bawaan dua orang penumpang tersebut.

Hasilnya, baik dari koper RD dan AM menunjukkan kesamaan pola. Diisi sejumlah barang berupa sajadah, selimut, serta beberapa celana jeans yang tersusun dengan rapi. Isi koper yang terlihat seragam dan tidak umum untuk keperluan liburan ini semakin menambah kecurigaan petugas. Ditambah lagi barang-barang pribadi dimasukkan dalam tas ransel yang dibawa terpisah.

Kedua penumpang kemudian dibawa ke Posko Bea Cukai untuk dilakukan pemeriksaan lebih mendalam. Hasilnya, pada masing-masing koper ditemukan empat bungkusan plastik bening berisi serbuk kristal putih yang diselipkan pada lipatan celana jeans yang secara sengaja disusun di bagian tengah tumpukan sajadah dan bed cover di bagian atas dan baju-baju lainnya di bagian bawah. Pola pengemasan ini sengaja digunakan untuk menyamarkan keberadaan serbuk kristal putih tersebut dan menghindari deteksi petugas di bandara.

“Penindakan ini berhasil mengamankan total barang bukti sebanyak delapan bungkus sabu dengan berat masing-masing bungkusan sebesar 280 gram dengan total berat 2.240 gram. Rencananya barang haram tersebut akan dibawa ke tujuan akhir Kendari menggunakan maskapai Citilink dengan rute Batam menuju Jakarta, Makassar dan Kendari,” sambung Zaky.

Menurut keterangan dari kedua pelaku, barang tersebut diperoleh dari seorang pengendali berinisial AWI, yang menginap di sebuah hotel di kawasan Jodoh, Batam. Pelaku AM mengaku menjadi kurir setelah diajak oleh temannya SASA, dan pernah menyelundupkan sabu ke Kendari serta menerima imbalan bersih sebesar Rp40 juta. Sedangkan Pelaku RD mengaku baru pertama kali menjadi kurir karena dirayu oleh pacarnya AM, dan tergiur imbalan (upah) sebesar Rp50 juta.

Kronologi Penyelundupan Sabu
Penangkapan penyelundupan sabu ini berawal Rabu (22/1/2025), ketika RD, AM, dan SASA diperintahkan oleh AWI untuk berangkat dari Pekanbaru ke Batam dengan tiket yang dibeli oleh SASA. Setibanya di Batam, mereka menginap di hotel yang sama dengan AWI, di kawasan Jodoh, Batam. Keesokannya, Kamis (23/1/2025) pagi pekan lalu. Atas arahan SASA, pelaku RD dan AM membeli koper di Nagoya dan pakaian bekas di Pasar Jodoh untuk mengisi koper tersebut. Koper itu kemudian diserahkan kepada AWI untuk diisi paket yang akan dibawa. Setelah proses pengemasan selesai, koper dikembalikan kepada RD dan AM.

SASA selanjutnya memberikan uang tunai kepada RD dan AM untuk membeli tiket secara terpisah dan kebutuhan operasional. Kemudian pelaku RD dan AM bersama-sama berangkat ke Bandara Hang Nadim menggunakan taksi online. Di Bandara Hang Nadim Batam, sepasang kekasih ini ditangkap Bea Cukai Batam.

Atas petunjuk dari dua pelaku tersebut, Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai Batam, Muhtadi, langsung membentuk Tim Gabungan serta mengerahkan Unit K-9 Bea Cukai Batam untuk melakukan pengejaran terhadap AWI dan jaringannya. Sekitar pukul 19.30 WIB, Tim Gabungan tiba di hotel dan berkoordinasi dengan pihak hotel untuk mendapatkan akses semua kamar yang disewa AWI. Selang beberapa menit, Tim Gabungan mengamankan dua orang laki-laki yang teridentifikasi sebagai AWI (25) dan RE (22) tanpa adanya perlawanan.

Tim Gabungan kemudian menggeledah total sebanyak 5 kamar yang digunakan oleh jaringan penyelundupan tersebut. Satu di antaranya digunakan sebagai tempat mengemas sabu dan empat lainnya sebagai kamar kurir dan pengendali.

Hasil penggeledahan secara menyeluruh mulai dari kamar, lemari, hingga barang bawaan pelaku yang terdapat di lokasi ditemukan barang bukti berupa serbuk kristal putih dalam kemasan dan barang lainnya untuk mengemas sabu yang meliputi 2 timbangan digital, 1 alat pengemas, dan 1 set alat hisap sabu (bong).

Adapun serbuk kristal putih (sabu) yang berhasil diamankan tersebut dimasukkan ke dalam kemasan dengan rincian 27 bungkus plastik dengan berat masing-masing 280 gram dan berat total 7.560 gram, 1 bungkus teh china ‘Guanyinwang’ seberat 1.045 gram, 1 plastik zip seberat 100 gram dalam bungkus rokok, dan 1 plastik zip seberat 10 gram dalam dompet AWI.

“Total keseluruhan barang bukti berupa serbuk kristal putih yang diduga methamphetamine sejumlah 8.715 gram,” sebut Muhtadi.

Dalam penindakan di hotel tersebut, petugas juga berhasil mengamankan sembilan orang, yaitu AWI sebagai pengendali utama sindikat, QA istri AWI, OKI adik ipar AWI, RE sopir pribadi AWI. Serta lima orang lainnya, yakni DR adik kandung OKI, NW sepupu kandung AWI, RS teman OKI, GR teman AWI, dan TES istri RE. Semuanya diduga kuat terlibat dalam jaringan narkoba tersebut.

Ketika petugas menanyakan keberadaan SASA kepada AWI, dia menjelaskan bahwa SASA telah meninggalkan hotel sejak sekitar pukul 18.00 WIB. Petugas Tim Gabungan kemudian membawa seluruh barang bukti dan terduga pelaku ke Kantor Bea Cukai Batam untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Petugas kemudian melakukan uji narcotest dan uji laboratorium terhadap sample barang bukti dan hasilnya positif mengandung senyawa narkotika Golongan I jenis Methamphetamine.

Petugas juga melakukan tes urine terhadap 11 orang yang diamankan, dan hasilnya 3 orang positif menggunakan narkoba. AWI mengaku kepada petugas bahwa ia memperoleh sabu dari seseorang berinisial RO yang merupakan otak dari sindikat ini. AWI sebelumnya sudah 4 kali melakukan transaksi penyerahan narkoba berdasarkan perintah RO. AWI mengambil barang tersebut dari sekitaran Pantai di Tanjung Balai Karimun, yang dibawa oleh 3 orang dengan speed boat dengan 2 mesin.

AWI kemudian membawa barang tersebut ke hotel untuk dihaluskan dan dikemas. Pada transaksi pertama AWI mengambil dan mengantar sendiri barang tersebut sebanyak kurang lebih 1 kg ke Kendari. Kemudian pada transaksi kedua, AWI ditemani oleh OKI mengambil dan mengantarkan barang seberat kurang lebih 4 kg, dengan tujuan akhir yang sama (Kendari).

Sedangkan, pada transaksi ketiga hanya OKI yang mengambil barang sebanyak kurang lebih 5 kg dan kemudian mengantarkan bersama-sama AWI ke Kendari. Pada transaksi keempat di bulan Januari 2025 ini, OKI kembali mengambil barang di lokasi yang sama sebanyak kurang lebih 11 kg sabu, untuk kemudian diserahkan kepada AWI yang sudah menunggu di hotel di Batam.

OKI dan AWI kemudian menumbuk dan menghaluskan barang tersebut serta mengemas dengan menggunakan Hyperlite Impulse Sealer ke dalam 35 bungkusan untuk didistribusikan dan dibawa oleh para kurir.

AWI dan OKI merekrut anggota keluarga dan teman dekat untuk berperan sebagai kurir dalam operasi ini. Para kurir dijanjikan imbalan hingga Rp50 juta per perjalanan. Sementara, AWI mengatur seluruh proses dengan rapi, termasuk memesan beberapa kamar hotel dan proses penyerahan barang di lokasi tujuan.

Atas barang bukti dan pelaku tersebut dilakukan penegahan dengan diterbitkan Surat Bukti Penindakan nomor SBP-N-3/KPU.2/2025, SBP-N-4/KPU.2/2025, dan SBP-N-5/KPU.2/2025 tanggal 23 Januari 2025. Terhadap barang bukti dan pelaku diserah terimakan ke Polresta Barelang dengan dibuatkan Berita Acara Serah Terima untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Satuan Narkoba Polresta Barelang telah menetapkan 4 orang tersangka dengan inisial AWI, OKI, RD, dan AM serta menetapkan status DPO atas inisial RO selaku otak pelaku, serta SASA dan NAWI selaku kaki tangan RO. Para tersangka dijerat dengan Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009, dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

“Penindakan ini bukan hanya menggagalkan penyelundupan narkotika, tetapi juga menyelamatkan hingga 55.000 jiwa dari ancaman bahaya narkoba. Serta menghemat biaya rehabilitasi sebesar Rp87 miliar,” sebut Zaky Firmansyah.

Operasi pengungkapan sindikat narkoba ini merupakan wujud nyata program Asta Cita Presiden RI sebagai komitmen dan kolaborasi Bea Cukai, Polri, TNI, Kejaksaan, dan aparat penegak hukum lainnya dalam memerangi penyelundupan narkoba di wilayah Indonesia khususnya Kepulauan Riau, yang dijadikan jalur pemasukan, transito, dan peredaran narkoba.

“Kami terus berupaya untuk memberantas berbagai modus operandi yang digunakan para pelaku penyelundupan, demi melindungi masyarakat dari bahaya narkoba,” kata Zaky Firmansyah Kepala Kantor Bea Cukai Batam, saat menggelar konferensi pers di Batam, Kamis (30/1/2025). (nurul atia/ion)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *