Bintan, suaraserumpun.com – Kapal nelayan Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri tenggelam diduga akibat lambung kapal bocor, Minggu (4/1/2026) dini hari. Lima nelayan di kapal tersebut akhirnya selamat, setelah terombang-ambing di laut. Dua dari lima nelayan, terombang-ambing di laut hingga 28 jam.
Lima nelayan yang menggunakan kapal pompong itu antara lain Muli Warman (nakhoda), Iwan Kusnadi (ABK), M Fadhil (ABK), El (ABK) dan Wahyu (ABK). Kapal nelayan tenggelam di perairan Tambelan tersebut baru diketahui oleh Unit Intelkam Polsek Tambelan, setelah mendapat informasi dari warga Tambelan Rahmat Parwandi, Senin (5/1/2026) pagi.
Atas informasi tersebut, Unit Intelkam Polsek Tambelan beserta anggota Polsek Tambelan menghubungi nelayan menggunakan radio milik nelayan lainnya, dan didapatkan kebenaran informasi tersebut. Pompong dengan nakhoda Muli Warman tenggelam di arah utara, kurang lebih 40 Mil dari Pulau Tambelan.
Peristiwa kecelakaan di laut ini bermula, ketika Muli Warman bersama empat ABK ingin memancing, Sabtu (3/1/2026) pagi. Sekitar pukul 12.00 WIB, sesampainya di titik memancing, Muli Warman berhenti untuk memancing ikan. Karena umpan habis, sekira pukul 18.30 WIB, Muli Warman pergi ke arah kurang lebih 17 mil dari tempat awal memancing, untuk mencari umpan.
Sekitar pukul 22.00 WIB, sesampainya di rompon tempat untuk menangkap umpan, mereka langsung mengambil umpan dan langsung menuju kembali ke tempat awal mereka memancing. Minggu (4/1/2026) pukul 00.30 WIB dini hari, di tengah perjalanan mereka untuk kembali ke tempat awal memancing, El seorang ABK merasakan ada yang aneh dengan kapalnya. Ketika El mengecek lambung kapal, sudah dalam keadaan dipenuhi air. Kemudian, para ABK mencoba untuk membuang barang seperti batu pancing dan jerigen air, agar kapal menjadi ringan. Namun tetap tidak berpengaruh.
Para ABK mengeluarkan fiber berukuran besar 1 ton, dan dilemparkan ke laut. 3 orang ABK berhasil naik ke fiber tersebut, yaitu Muli Warman, , Iwan Kusnadi, dan Wahyu masuk ke dalam fiber tersebut. Setelah itu, Fadhil dan El tidak sempat naik ke fiber bersama 3 rekan lainnya. Karena angin kuat dan gelombang yang tinggi. Tetapi mereka mengambil tutup fiber dan segera melompat ke atas tutup fiber tersebut. Lebih kurang 10 menit kemudian, kapal pun tenggelam. Lima nelayan Tambelan ini pun terombang-ambing.
Beruntung, sekitar pukul 04.00 WIB, Minggu (4//1/2026), 3 ABK berhasil diselamatkan oleh seorang nelayan yang sedang melaut di sekitar daerah tersebut. Sedangkan 2 ABK lainnya baru dijumpai sekitar pukul 08.00 WIB, Senin (5/1/2026) oleh nelayan yang berbeda, setelah 28 jam terombang-ambing di laut.
“Setelah kapal tenggelam, nelayan itu terombang-ambing di laut hingga berhasil diselamatkan oleh kapal nelayan yang lewat di sekitar daerah tenggelam itu,” kata Asmawi Camat Tambelan. (yen)
Editor: Sigik RS
