banner 728x90
Kapal motor mengisi fiber box ikan untuk diekspor ke Singapura. F- dok/suaraserumpun.com

Fenomena Ekspor Ikan dari Kepri Saat Musim Angin Utara, Singapura Hanya Menurunkan Harga Tenggiri

Komentar
X
Bagikan

Bintan, suaraserumpun.com – Memasuki akhir tahun, wilayah Kepri menghadapi musim angin utara. Cuaca ekstrem ini sudah menjadi fenomena tahunan. Imbasnya, harga ikan tangkapan nelayan Kepri yang diekspor ke luar negeri, berubah angkanya. Sebagian besar mengalami kenaikan harga. Pemerintah Singapura hanya menurunkan harga ikan tenggiri.

Sejak November lalu, curah hujan dan gelombang di laut cukup tinggi. Nelayan tradisional di Provinsi Kepri, seperti di Bintan terpaksa merapat ke pinggir. Tak berani melaut untuk mencari ikan, seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi, ada juga sebagian nelayan Kepri yang berani melaut, dengan menggunakan kapal berukuran besar. Justru itu, ekspor ikan dari Kepri keluar negeri seperti Singapura, berkurang jumlahnya.

“Kami tak melaut bang. Gelombang tinggi. Kapal kami kecil. Beda dengan nelayan yang pakai kapal besar. Orang tu justru panen ikan-ikan besar kalau musim utara ni,” ujar Aloi, seorang nelayan tradisional di Kijang Kota, Rabu (17/12/2025).

“Tunggu lah bentar lagi, angin utara reda. Baru kami melaut,” sambungnya.

Nelayan tradisional di Kepri seperti di Kabupaten Bintan, pada umumnya menggunakan kapal berukuran di bawah 7 GT. Bahkan nelayan pesisir, rata-rata memiliki kapal motor untuk menangkap ikan, berukuran antara 1 sampai dengan 3 GT (Gross Tonnage). Ketika musim angin utara tiba, nelayan tradisional yang menggunakan kapal kecil, tidak melaut. Karena risiko sangat besar menghadapi cuaca ekstrem, gelombang tinggi dan angin kencang.

Tak heran, pada saat angin musim utara, para nelayan tradisional merapat ke pesisir, dan menambatkan kapal motor (pompong) penangkap ikan miliknya. Sebagian nelayan yang tidak melaut, hanya berdiam diri di rumah. Ada juga yang berdagang maupun mencari pekerjaan alternatif lainnya.

Kondisi tersebut juga berimbas kepada pengusaha atau pengumpul ikan hasil tangkapan nelayan. Jumlah ikan yang dibeli tauke, sedikit. Para tauke hanya mengandalkan hasil tangkapan dari nelayan yang menggunakan kapal besar, berukuran di atas 10 GT. Bahkan, beberapa nelayan ada yang menggunakan kapal berukuran 30 GT.

Kapal nelayan yang berukuran besar tersebut, justru panen ikan berukuran besar saat angin musim utara. Terutama ikan tenggiri yang berkualitas ekspor. Sebab, ikan tenggiri lebih banyak didapatkan oleh nelayan pada masa musim angin utara. Biasanya, ikan tenggiri yang berukuran di bawah 5 kilogram, dibeli oleh tauke senilai Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan tenggiri besar berbobot di atas 5 kilogram, dibeli tauke seharga Rp75 ribu per kilogram. Kemudian, ikan tenggiri tersebut dijual ke Singapura, atau ekspor keluar negeri.

Tapi pada saat musim angin utara, ketika hasil tangkapan ikan tenggiri melimpah (banjir), justru pemerintah Singapura menurunkan harga beli. Sedangkan jenis ikan lainnya, harga ekspor justru naik dua kali lipat. Sementara, ikan ekspor seperti kakap merah, kerapu dan jenis lainnya sangat sulit didapatkan pada musim angin utara.

“Ya, begitu fenomena ekspor ikan pada angin musim utara,” ungkap Salikin, seorang pengusaha perikanan Bintan.

Ekspor ikan hasil tangkapan nelayan Kepri ke Singapura pada musim angin utara, sebenarnya tidak terkendala. Ekspor ikan berjalan aman dan lancar. Hanya menghadapi cuaca ekstrem di laut saat pengiriman ikan. Karena, armada ekspor ikan itu menggunakan kapal dari Kepri ke Singapura, atau dari Kepri ke Malaysia.

“Kalau kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang ini, ekspor itu aman saja. Tetap jalan. Ikan tenggiri yang banyak diekspor, kalau musim sekarang. Sedangkan jenis ikan lainnya, sedikit. Karena, nelayan tak banyak yang turun ke laut, menangkap ikan,” ujarnya.

Nah, ketika ikan tenggiri lebih banyak diekspor, pemerintah Singapura sebagai pembeli, justru menurunkan harga.

“Kalau musim angin utara sekarang, harga tenggiri pasti turun. Dikarenakan sistem lelang di Singapura. Ikan banyak, harga pasti turun. Ikan sedikit, harga pasti naik. Kalau ikan dasar seperti ikan kerapu, ikan merah (kakap) dan jenis lainnya, harganya naik dua kali lipat. Tapi, ikan dasar ini kan sedikit jumlah yang dibawa ke Singapura. Tiap tahun fenomenanya seperti ini,” kata Salikin.

Fluktuasi harga ikan ekspor tersebut, juga terjadi di pasar lokal. Pada saat musim angin utara, harga ikan naik di pasar wilayah Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan. Termasuk di Kota Batam dan daerah lainnya. Seperti ikan selar, selikur hingga ikan plate pun dijual pedagang dengan harga tinggi.

“Kalau cuaca angin kuat (kencang) dan gelombang tinggi, kapal nelayan tradisional berukuran 1 GT sampai 10 GT, pasti tak berani melaut. Akibatnya, ketersediaan ikan di pasar sangat kurang. Tapi saat ini, angin utara sudah mau reda. Sebentar lagi, nelayan akan panen ikan. Harga jual di pasar pun bakal stabil lagi,” demikian Salikin.

Eko Prihananto selaku Ketua HNSI Provinsi Kepri mengatakan, fenomena pada musin angin utara, biasanya nelayan di Kepri sudah mengantisipasi dan mempersiapkan segalanya. Karena fenomena musim angin utara sudah dialami nelayan secara turun menurun.

“Kalau tidak bisa melaut, nelayan kita melakukan pekerjaan alternatif lain,” kata Eko.

Ikan tenggiri hasil tangkapan nelayan tradisional yang bakal diekspor oleh eksportir ke Singapura. F- yen/suaraserumpun.com

Fenomena angin utara, lanjut Eko Prihananto, juga berimbas pada jumlah dan nilai ekspor ikan dari Kepri ke Singapura, atau dari Kepri ke Malaysia, maupun dari Kepri ke Cina dan Hong Kong. Jumlah ikan yang diekspor terjadi penurunan yang cukup signifikan. Karena kapal yang biasa sebagai media ekspor atau penangkap ikan berkurang pada musim angin utara.

“Justru itu, Pemerintah Cina (Tiongkok) gencar untuk mendukung kegiatan budi daya. Agar suplai (supply) kebutuhan pasar (dunia) bisa dipenuhi oleh pengusaha lokal. Saat ini, daya beli ikan ekspor dari Kepri di Singapura, mungkin juga turun. Bukan hanya karena cuaca ekstrem saja. Tapi, akibat krisis ekonomi global,” jelas Eko Prihananto Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *