banner 728x90
Bupati Natuna Cen Sui Lan bersilaturahmi dan menjaring aspirasi masyarakat saat kunjungan kerja (kunker) ke Pulau Midai selama dua hari. F- ist

Hasil Kunker ke Midai, Cen Sui Lan Ingin Cetak Sawah 500 Hektare

Komentar
X
Bagikan

Natuna, suaraserumpun.com – Bupati Natuna Cen Sui Lan telah melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Pulau Midai selama dua hari, Senin (24/11/2025) sampai Selasa (25/11/2025). Dari hasil kunker ke Pulau Midai, Bupati Natuna Cen Sui Lan ingin mencetak sawah baru seluas 500 hektare untuk kepentingan masyarakat, hingga mendorong pelabuhan perintis menjadi pusat logistik utara NKRI.

Kunker Bupati Natuna Cen Sui Lan ke Midai, menghasilkan beberapa keputusan penting yang bisa menentukan masa depan ketahanan pangan di pulau terluar Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I. Bukan seremoni, melainkan rapat lapangan tanpa sekat meja dan kursi, dan setiap simpul keputusan diambil langsung di titik persoalan.

Di tengah kemandirian pangan yang mulai tumbuh di Midai, Desa Air Putih dan Desa Gunung Sebelat, mengusulkan pembukaan sawah seluas 500 hektare. Bukan sekadar angka di peta, tetapi langkah nyata memutus ketergantungan pasokan dari luar, terutama dari Pemangkat yang selama ini mengirim bahan pokok dengan kapal kayu.

“Kalau airnya siap, petani siap menanam. Ketahanan pangan di Midai harus dimulai dari sumbernya,” tegas Cen Sui Lan di lokasi lahan, dikelilingi kontur bukit dan lintasan laut utara Natuna.

Di titik lahan sawah satu hektare yang akan dicetak lebih dulu, Cen Sui Lan menghubungi pejabat Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PU. Responsnya cepat, jarang terjadi dalam birokrasi berlapis. Permintaan konkretnya, pembangunan irigasi primer dan teknis.

Model yang dipakai adalah kolaborasi empat level pemerintahan. Yaitu, Pemerintah Desa penyediaan lahan, kelembagaan kelompok tani, pengelolaan awal. Pemerintah kabupaten perencanaan teknis, pembinaan pertanian, jaringan distribusi air lokal. Pemerintah provinsi, dukungan alsintan untuk daerah terluar. Serta pemerintah pusat mencetak sawah baru, bibit unggul, penyuluhan, dan penguatan program ketahanan pangan nasional.

Pulau Midai merupakan salah satu wilayah yang paling rawan kelangkaan bahan pokok ketika musim utara datang. Tanpa Pelni atau Roro yang merapat, harga kebutuhan pokok langsung melambung.

Kapal kayu dari Pemangkat menjadi tumpuan utama masyarakat. Namun ketika cuaca buruk, akses pangan menjadi taruhan. Karena itu, ketahanan pangan mulai dari sawah, peternakan, hingga infrastruktur, menjadi isu mendesak bagi Midai.

Cen Sui Lan bersama Wakil Bupati, TP2D, dan anggota DPRD meninjau jalan lingkar Midai yang akan direvitalisasi.

“Ini akses vital penghubung desa-desa, urat logistik distribusi pangan. Revitalisasinya harus cepat,” tegas Cen Sui Lan.

Menurutnya, jalan lingkar bukan cuma lapisan aspal, tetapi faktor penentu fluktuasi biaya hidup warga pulau terluar.

Perjalanan Cen Sui Lan berlanjut ke sisi Utara Midai menggunakan mobil ambulans menembus medan menanjak. Di sana, abrasi laut mulai menggerus garis pantai. Bupati Natuna memastikan lokasi masuk prioritas program pengamanan pantai, mitigasi pesisir untuk menyelamatkan akses warga dan pemukiman di pulau kecil.

Kunjungan ditutup dengan peninjauan Pelabuhan Perintis, yang menjadi pusat harapan warga Midai karena setiap kapal yang merapat membawa bahan pokok.

“Pelabuhan ini dulu aspirasi kita di DPR RI. Ke depan, kita dorong agar menjadi pusat logistik di Natuna sebagai wilayah utara NKRI,” harap Cen Sui Lan.

Meski kini menjadi jalur singgah Roro dan Pelni, fasilitas pendukungnya belum lengkap. Tanpa pelengsengan dan turap, kapal Roro enggan merapat saat musim angin utara. Akibatnya, kapal Pelni sering hanya lego jangkar di tengah laut, dan kapal kayu harus menjemput penumpang serta logistik dalam kondisi berbahaya. Bagi Cen Sui Lan, Midai bukan pinggiran, melainkan beranda depan NKRI.

“Perbatasan bukan garis akhir. Perbatasan adalah garis mulai kita berdiri,” tutur Bupati Natuna.

Kunjungan kerja intens sehari ini meninggalkan daftar pekerjaan besar yang akan dibawa Cen ke kementerian: irigasi, sawah baru, jalan lingkar, pengaman pantai, dan pelabuhan perintis. Semua mengarah pada satu tujuan: menjadikan Midai lebih mandiri dan kuat menghadapi musim utara yang makin ekstrem. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *