Telukkuantan, suaraserumpun.com – Awalnya, Supri Andayani sosok ibu rumah tangga ini menjalankan usaha budi daya perikanan air tawar dalam skala kecil. Bisa dibilang usaha rumah tangga, atau usaha rumahan. Tapi sekarang, Supri Andayani yang merupakan seorang ASN si pengusaha rumahan ini menjadi perintis perikanan modern di Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.
Ada istilah kerja keras itu tidak akan menghianati hasil. Istilah ini pantas disematkan kepada Supri Andayani, seorang Aparatur Sipil Negara di Pemkab Kuantan Singingi. Nani begitu sapaan akrabnya. Kini dia berhasil membuka usaha perikanan di Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi Riau. Bahkan ia dijuluki perintis usaha perikanan modern yang menyediakan bibit bagi petambak ikan di Kuantan Singingi.
Berbekal ilmu dari bangku perkuliahan dari Fakultas Perikanan Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perairan Prodi Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Riau (Unri) Pekanbaru pada 2001 Nani memulai merintis usaha perikanan mulai dari nol. Bisa dikatakan usaha rumah tangga atau rumahan.
Nani memulai usaha di Pasongik Desa Muaro Sentajo sebanyak 2 petak di atas lahan seluas 0,5 hektare. Usaha pertamanya itu berdekatan dengan kolam Mustafa dan teman sama sekolah semasa SMPN 1 Sentajo, Cungang dan Mudawarman.
Usaha Nani berbatasan dengan Cekdam dengan genangan air seluas 2 hektare. Air Cekdam merupakan sumber utama air, jika kolamnya mengalami kekeringan.
“Usaha ini nanti yang kami rencanakan menjadi cikal bakal usaha perikanan dan pertanian terpadu Guna Farm Bersaudara di Sentajo,” ujar alumnus Faperi Unri tersebut, belum lama ini.
Saat memulai merintis usahanya, Nani turun dan tinggal langsung di kolamnya. Ia juga terjun langsung mengerjakan usaha perikanan dan usaha ternak ayam potong atau ayam broiler. Pepatah bijak mengatakan usaha tidak akan menghianati hasil. Pada 2012 sampai dengan 2017, usaha yang rintisnya itu terus berkembang. Dia bisa membuka lahan kolam baru seluas 2 hektare di Gajah Mati, Kampung Baru Sentajo.
Ada tujuh kolam pemijahan, tujuh kolam pendederan dan dua kolam pemberokan, yaitu kolam pemisahan induk jantan dan betina setelah dilakukan pemijahan. Kemudian ia juga membuka kolam di Rimbo Sialang, Kampung Baru Sentajo. Di atas lahan seluas 1 hektare ada kolam sebanyak enam petak pembesaran dan dua petak pendederan.
Dalam merintis usaha budi daya perikanan air tawar ini, Nani teringat kejadian pada 2012. Pada waktu itu masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi mulai melirik untuk membuka usaha di bidang perikanan. Akibatnya, ketersediaan benih ikan tidak tercukupi oleh UPR.
Hampir semua benih ikan didatangkan dari UPR luar kabupaten Kuansing. Yakni dari Kabupaten Kampar, Pekanbaru dan Provinsi Sumatera Barat. Pada saat itu sering ditemukan benih ikan yang mati secara serentak. Hal ini bisa diakibatkan karena jual beli benih tanpa pengawasan pihak yang berwenang. Sehingga dikhawatirkan akan terjadinya penularan penyakit ikan.
Menurut Nani penanganan benih yang tidak tepat saat penangkapan dan packing dapat menyebabkan kerusakan dan iritasi pada kulit dan sisik ikan. Kulit yang iritasi atau sisik yang rusak/lepas merupakan media tumbuh bagi jamur.
“Penyebaran dan penularan penyakit oleh jamur pada air sangat cepat dan menyerang daya tahan tubuh ikan. Ikan akan lemah dan nafsu makan ikan berkurang. Jamur juga akan menyerang insang ikan. Sehingga ikan susah bernapas,” ujarnya.
Penyakit ini kata Nani dapat menular ke kolam kolam sekitarnya, apabila sumber air yg dipakai dialirkan secara paralel dan kualitas air tidak bagus. Inilah suka duka budi daya ikan.
Sejak kejadian itulah mulai timbul insiatif Nani untuk membuat Usaha Pembenihan Ikan Rakyat (UPR), selain usaha pembesaran ikan. Ikan yang dibenihkan adalah khusus jenis ikan nila yang merupakan komoditi unggulan Kabupaten Kuantan Singingi. Ada jenis ikan gurame (gurami) atau ikan kalui.

Mengenal Dunia Ikan
Perjalanan hidup tidak satu orangpun bisa menduga. Apa yang sudah menjadi ketetapan Allah, tidak bisa dilawan. Sejak itu, Nani baru tersadar garis perjalanan hidupnya mengambil kuliah di Fakultas Perikanan Unri. Padahal sejujurnya, dia tidak terlalu mengenal dunia ikan. Namun setelah membuka usaha budi daya perikanan, ia temukan jawabannya. Rupanya ia ditakdirkan untuk menjadi petani ikan dengan segala suka dan dukanya.
Menurut Nani kolam ikan di Gajah Mati yang sekarang dikelola dulunya bekas kolam datuknya H Abdullah Yusuf. Kolam tersebut sudah dia uangkan (beli) kepada pamannya Rustam Efendi dan Supardi.
Kilas balik ke belakang Nani menceritakan pada 1980-an kolam ini pernah mendapatkan penghargaan dari Pemerintahan Kabupaten Indragiri Hulu sebagai “Kolam Percontohan”. Namun dalam perjalanannya gagal karena almarhum datuknya ketika itu membuat kolam hanya berbekal ilmu secara otodidak.
“Datuk kami membuat kolam ini hanya sekedar hobi. Dia tidak punya ilmu pengembangan usaha. Maklum karena keterbatasan ilmu, informasi, teknologi, dan modal apa adanya membuat usaha datuk tidak berkembang,” kenangnya.
Kini Nani bekerja di lahan kolam lebih kurang 3,5 hektare terpencar di tiga lokasi. Yaitu Pasongik (Muaro Sentajo), Gajah Matim dan Rimbo Sialang (Kampung Baru Sentajo), kini UPR Iwan Bersaudara terus bergerak maju dan berbenah diri.
Tercatat UPR Iwan Bersaudara penghasil benih ikan nila tertinggi di Kabupaten Kuantan Singingi. Jumlah produksi ratusan ribu benih ikan setiap rentang panen setiap bulannya.
Menurut Nani, UPR Iwan Bersaudara sudah dua kali mengikuti penilaian. Yakni 2013 dan 2023 dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI dengan nilai serifikat Excellent (Sangat Baik) tentang Cara Pembenihan Ikan yang baik (CPIB) tingkat Provinsi Riau.
Selain itu juga mendapatkan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko skala Usaha Mikro dengan Nomor Induk Berusaha (NIB): 1905230049813 yang ditandatangani Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia. Dan peringkat ketiga sebagai Pelopor Ketahanan Pangan Tingkat Provinsi Riau tahun 2017 yang ditandatangani oleh Gubernur Riau, H Syamsuar.

Cemeeh Jadi Motivasi
Perjalanan panjang dan diiringi oleh keraguan masyarakat sekitar saat Nani baru membuka lahan kini terbayar lunas. Nanti bisa membuktikan “cemeeh” yang disampaikan masyarakat dulu menjadi motivasi untuk membuktikan keilmuannya.
“Ilmu itu memang perlu untuk menciptakan suatu usaha. Tanpa ilmu ibarat gulai tanpa kuah. Terasa hambar,” katanya serius.
Nani masih ingat komentar orang yang sedikit meragukan kemampuanya. Namun semua itu dianggapnya obat dan cimeti (cambuk) untuk terus bangkit.
“Bukankah banyak orang yang mengatakan, tahi kambing itu jika dijadikan obat akan terasa coklat. Atau istilah lain jika cinta sudah melekat tahi kambing terasa coklat. Ahhaaaa……?” ujarnya memberi perumpamaan.
Nani masih ingat komentar yang menyebut dirinya secara langsung. Ungkapan Nani kan membori makan borang-borang dan membuang-buang duik, kini terjawab sudah. Kenyataannya kini bukan borang-borang dan duit yang menghilang, tapi masya Allah rezeki yang luar biasa yang diberikan Allah melalui ilmu pengetahuan yang tuntut dan dipraktikkannya.
Yang disyukuri Nani saat ini adalah Kabupaten Kuantan Singingi sudah bisa menjawab permasalahan kekurangan benih ikan nila. Saat saat di hearing di DPRD Kabupaten Kuantan Singingi Nani juga sudah bisa membuktikan usahanya.
Usaha perikanan tersebut kini sudah bersertifikat Cara Pembenihan Ikan Yang Baik (CPIB) Nomor 2848.2407.Al.BO-FormCPIB oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan c/q Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.
Sertifikat itu ditandatangani di Jakarta tanggal 24 Juli 2023 oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Dr TB Haeru Rahayu APi MSc.
Nani merasa bersyukur sudah mengikuti nasihat orang tua untuk sekolah dan menuntut ilmu. Dulu orang tuanya berpesan hanya dengan pendidikan kalian bisa mengubah hidup. Saat ini semua ucapan terbukti.
Menurut Nani, atas kerja keras dan dukungan keluarga usaha pembenihan dan pembesaran ikan terus berkembang. Dan semua ilmu perikanan itu sudah diturunkannya kepada suami dan anak-anaknya.
Saat ini kami tinggal mengamati dan tidak perlu turun tangan lagi. Semuanya sudah berjalan sesuai realnya,” ujarnya penuh bahagia.
Benar kata pepatah, usaha tidak mengkhianati hasil. Diawali dengan niat baik untuk membantu petani ikan dengan benih ikan yang berkualitas di Kuantan Singingi, Alhamdulillah Allah permudah semuanya. Nani terus berbenah dan meningkatkan kualitas benih yang dihasilkan.
Saat ini Nani mulai merintis usaha perikanan dan pertanian terpadu. Pada lahan kolam dan pertanian di Gajah Mati terhampar sekitar lebih kurang 6,5 hektare termasuk lahan kolam dan 1 hektare lahan mamak (paman) Fazhar sudah dijadikan lahan untuk menanam berbagai macam buah-buahan.
Menurut Nani, ada jenis durian, kelapa pandan wangi, kelapa jenis hibrida lainnya, aren, dan tanaman coklat ada di sini. Inilah cikal bakal Guna Farm Bersaudara.

Profil Singkat Supri Andayani
Berikut profil singkat Supri Andayani. Nani dilahirkan sebagai anak tertua dari pasangan Mohd Kasi Rafin dan Supridah. Alumnus Fakultas Perikan Unri angkatan 1991 kelahiran Rengat 24 Desember 1972 menikah pada 13 Desember 1997 dengan Gusnaidi. Sang suami adalah “cik gu“ olahraga di SD 008 Beringin Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantan Singingi, Riau.
Dari pernikahan itu kedua pasangan ini dikarunia empat orang anak: dua putra dan dua putri. Yakni M Guna Setiawan kelahiran 3 Desember 1998 di Pekanbaru kini sedang menuntut ilmu di Pascasarjana Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB). Inilah sebagai promotor untuk membuka usaha Guna Farm Bersaudara.
Anak keduanya, Rezky Guna Putra kelahiran 5 Oktober 2000 di Kampung Baru Sentajo. Saat ini sedang menuntut ilmu di Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Statusnya saat ini sebagai asisten dosen Fakultas Kedokteran Abdulrab Pekanbaru.
Anak ketiganya, Guna Afifah kelahiran 10 Oktober 2003 lahir di Solok. Ini adalah anak istimewa (anak berkebutuhan khusus).
“Insya Allah merupakan anak yang sangat istimewa bagi kami,” ujar Nani.
Anak bungsu, Zakira Guna Ramadhanti kelahiran 3 Oktober 2007 di Pekanbaru saat ini sedang menuntut ilmu di MAN Taluk Kuantan.
Merintis Perikanan Modern
Perjalanan Nani merintis usaha perikanan cukup panjang dan berliku. Tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah berkehendak. Semua hasil yang kini di raihnya di luar dugaannya.
Walaupun ini merupakan pekerjaan sampingan atau rumahan bagi keluarganya. Namun hasilnya bisa melebihi pekerjaan utamanya di lingkungan Pemkab Kuantan Singingi. Kini, Nani menjadi pengusaha perintis perikanan modern di Kuantan Singingi.
Justru itu, wajar dan pantas jika Nani menyampaikan pesan untuk generasi muda.
“Jangan malas untuk menuntut ilmu. Yakinlah melalui ilmu dan pendidikan yang kita tempuh Insya Allah bisa mengubah kehidupan kita,” nasihatnya.
Nani mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia.
“Jerih payah kalian menyekolahkan kami telah membuahkan hasil dan bermanfaat bagi kami dan masyarakat banyak khususnya bidang perikanan dan ketahanan pangan. Serta dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar,” ucapnya.
Taka ada gading yang yang tak retak. Tak ada manusia yang luput dari kesalahan dari manusia. Nani, hanya ingin berbagi untuk dirinya sendiri, keluarga, teman, dan lainnya. Syukur-syukur pengalaman ini bisa menjadi cimeti (cambuk) bagi yang lain untuk mengeluti dunia usahanya.

Untuk peternak ikan di manapun berada, Nani berpesan, Apapun pangkat dan jabatan kalian, di manapun kalin berada, kalian adalah sahabat “Guna Farm Bersaudara”. Sahabat dalam artian yang sesungguhnya bukan sahabat yang tak mau berusaha untuk mengubah nasib.
“Sahabatku, kita harus bangkit. Kalau bukan sekarang kapan lagi. Kalau bukan kita siapa lagi,” ujar Nani. (mas)
Editor: Sigik RS
