banner 728x90
Nuratikah Dwimawarni. F- istimewa/tika

Melihat Nilai Estetika pada Puisi “Tragedi Winka & Sihka” Karya Sutardji Calzoum Bachri

Komentar
X
Bagikan

Oleh: Nuratikah Dwimawarni (190388201014)
Mahasiswa FKIP Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMRAH

Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang paling menarik. Segala unsur seni sastra mengental dalam puisi. Puisi juga mengandung nilai estetika yang bermakna, mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, merangsang panca indra dalam susunan yang berirama. Puisi juga rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang diubah dalam wujud yang paling berkesan. Puisi dapat membuat kita menjadi tertawa, menangis, tersenyum, berfikir, merenung, terharu bahkan emosi dan marah.

Tragedi Winka dan Sihka

kawin
           kawin
                      kawin
                                 kawin
                                            kawin
                                                       ka
                                                 win
                                              ka
                                      win
                                  ka
                           win
                      ka
              win
         ka
 winka
              winka
                           winka
                                           sihka
                                                    sihka
                                                             sihka
                                                                      sih
                                                                  ka
                                                             sih
                                                        ka
                                                   sih
                                               ka
                                          sih
                                      ka
                                 sih
                             ka
                                 sih
                                      sih
                                           sih
                                                sih
                                                     sih
                                                          sih
                                                               ka
                                                                   Ku

Puisi di atas adalah salah satu dari sekian banyaknya karya sastra Sutardji Calzoum Bachri. Sutardji Calzoum Bachri dijuluki sebagai presiden penyair Indonesia dan merupakan salah satu pelopor penyair angkatan 1970-an, lahir 24 Juni 1941 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Dia anak kelima dari sebelas orang bersaudara. Jenjang pendidikan yang dilalui Sutardji dimulai SD, SMP, SMA, kemudian Fakultas Sosial Politik, Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Pada puisi di atas termasuk salah satu puisi kontemporer. Tema puisi tersebut adalah sebuah perjalanan hidup yang sengsara, penuh lika-liku dan marabahaya. Kemudian dapat dilihat lebih dalam letak nilai estetika pada puisi "Tragedi Winka & Sihka" karya Sutardji Calzoum Bachri adalah di tipografi. Tipografi merupakan suatu ukiran bentuk dalam menyusun puisi. Penulisan pada puisi Tragedi Winka & Sihka yang disusun secara zigzag vertikal membuat bentuk puisi berbeda dengan puisi lainnya. Jadi puisi ini mempunyai ciri khas tersendiri dari karya sastra lainnya, karena tipografi yang mempunyai makna begitu dalam di setiap sajak.

Yang membawa nilai estetika pada puisi ini adalah tipografi yang berbentuk zigzag vertikal. Dalam puisi ini kata-kata disusun secara zigzag vertikal dan menjadikan sebuah ciri khas terendiri pada puisi ini. Diksi dalam puisi inilah yang memberikan sebuah unsur nilai keindahan atau estetika yang khas, dalam puisi “Tragedi Winka & Sihka”. Dari segi penulisannya tidak semata-mata hanya kata-kata belaka saja, melainkan ada makna dan pesan yang tersirat yang hendak disampaikan kepada pembacanya.

Tipografi zigzag vertikal bentuk yang sangat jelas dalam puisi ini yang merupakan  suatu perkawinan yang sulit dan membutuhkan suatu perjuangan. Jika dilihat lagi dari penulisannya yang semakin miring maka artinya menceritakan bahwa lakon sedang mengalami masalah yang semakin sulit. Bentuk kata-kata yang seolah bergelombang menandakan dan menggambarkan bahwa pasang surutnya suatu kehidupan pernikahan. Dengan kata lain diawal tahun pernikahan akan mengalami suatu kebahagiaan, namun seiring berjalannya waktu permasalahan-permasalahan silih berganti dan mulai bermunculan.

Teknik persajakan seperti di atas dengan memotong-motong kata dan membalikkan suku kata seperti itu belum pernah terjadi dalam perpuisian Indonesia modern sebelumnya. Cara sebuah teks ditulis sebagai larik-larik yang khas, lalu menciptakan makna tambahan yang diperkuat oleh penyajian tipografi puisi. Dalam puisi-puisi kontemporer seperti karya-karya Sutardji Calzoum Bachri, tipografi itu dipandang begitu penting.

Puisi “Tragedi Sihka & Winka” memang mempunyai arti untuk menggambarkan suatu keadaan dalam kehidupan nyata tentang pernikahan. Kata kawin, kasih, winka, sihka, ka – win, dan ka – sih, merupakan tanda-tanda yang mempunyai makna tersirat. Bila kata itu utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya pun terbalik, berlawanan dengan kata aslinya. Secara logika bila kata itu utuh, sempurna seperti aslinya, maka arti dan maknanya sempurna. Bila kata-kata dibalik, maka maknanya-pun terbalik, berlawanan dengan arti kata aslinya. Dalam kata ‘kawin’ terkandung konotasi kebahagiaan, sedangkan ‘winka’ itu mengandung makna kesengsaraan. ‘Kawin’ adalah persatuan, sebaliknya ‘winka’ adalah perceraian. ‘Kasih’ itu berarti cinta, sedangkan ‘sihka’ kebencian. Bila ‘kawin’ dan ‘kasih’ menjadi ‘winka’ dan ‘sihka’ itu adalah tragedi kehidupan. Targedi mulai terjadi ketika ‘kawin’ dan ‘kasih’ tidak bisa dipertahankan dan terpecah menjadi sih – sih, kata tak bermakna, yang menunjukkan hidup menjadi sia-sia belaka.

Sajak dari puisi ini hanya terdiri dari dua kata 'kawin' dan 'kasih', yang dipotong-potong menjadi suku kata-suku kata, kemudian juga dibalik menjadi 'winka' dan 'sihka'. Saat awalnya kata kawin masih penuh, yang artinya sempurna. Kawin memberi konotasi begitu indahnya perkawinan. Setiap orang yang ingin kawin mesti berangan-angan tentang indahnya kawin, ada suami atau istri, dan kemudian akan ada anak, hidup bahagia dengan kasih sayang anak istri dan suami. Namun, melalui perjalanan waktu kata kawin terpotong menjadi 'ka' yang artinya tidak penuh lagi. Angan-angan perkawinan semula terpotong, ternyata kenyataan setelah kawin berubah. Dalam perkawinan seorang suami harus memberi nafkah, ada kewajiban-kewajiban yang harus terlaksana. Ada anak yang harus dibiayai, bahkan sering terjadi pekerjaaan suami-isteri, harus membiayai pakaian, dan sekolah anak. Ternyata perkawinan itu tidak seperti yang diharapkan, dengan penuh dengan kebahagiaan, segala sesuatu yang berjalan lancar, tetapi hanya penuh kesukaran. Terbalik artinya, kawin menjadi 'winka'. Kata kasih juga terpotong-potong menjadi ka dan sih, yang kehilangan menjadi: sih-sih-sih-sih-sih saja, bahkan mungkin istri atau suami menyeleweng, terjadilah perceraian. Nah, terjadilah tragedi winka & sihka, pembalikan dari angan-angan kawin dan kasih, yang pada mulanya diangankan akan penuh kebahagiaan..

Cetakan kehidupan nyata juga tergambar jelas pada wajah puisi ini. Tampilan tipografi zigzag vertikal yang runcing, menukik dan curam ikut andil dalam menyelaraskan makna yang diharap penyair. Ekspresi yang terkandung di dalam puisi adalah makna dari tipografi itu sendiri yang begitu penuh makna.
Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam kata “kawin” terkandung konotasi makna kebahagiaan, sedangkan 'winka' itu mengandung kesengsaraan. Kawin adalah persatuan, sedangkan winka adalah perceraian. Kasih itu berarti cinta, sedangkan sihka itu kebencian. Kawin dan kasih adalah kebahagiaan, sedangkan winka dan sihka adalah kesengsaraan. Bila kawin dan kasih menjadi winka dan sihka, maka itulah tragedi kehidupan. Demikian pula dengan tipografinya yang menggambarkan perjalanan pengalaman yang berliku dan penuh bahaya. Kata kawin ditulis sampai 5 kali yang mewakili suatu waktu baik 5 tahun, 5 hari 5 minggu, atau 5 bulan, yang menjerumus mengenai usia perkawinan tersebut.

Setelah membaca puisi ini yang menampilkan kata kasih dan kawin, hal yang dapat kita pahami adalah bagaimana rasa kasih sayang dapat menyatukan berbagai macam budaya dalam tali perkawinan. Sepatutnya kita berusaha menjaga rasa kasih sayang tersebut agar tidak patah, agar tidak berubah menjadi benci, agar tidak timbul berbagai macam tragedi serta jalan kehidupan yang berkelok-kelok dan menyengsarakan. Kasih sayang bukan sebab utama adanya perkawinan. Namun tanpa adanya kasih sayang, tidak akan ada perkawinan yang indah. Dengan menjaga rasa kasih sayang sesama manusia, bukan hanya perkawinan yang terselamatkan, tapi seluruh aspek kehidupan manusia turut terjalin indah.

Sejatinya perkawinan memiliki makna menyatukan, mengumpulkan untuk terwujudnya kebahagiaan. Perkawinan selalu diinginkan bagi setiap orang. Hidup dengan seseorang yang dicintai menjadi cita-cita tersendiri, secara mutlak ada dalam sanubari manusia. Memikirkan perkawinan tergambar sudah bahagia dan suka cita. Namun dibalik itu semua perkawinan juga menyimpan banyak hal teka-teki yang begitu rumit, dipenuhi batuan terjal dan jalan yang berliku, penuh dengan permasalahan. Maka dari itu tidak jarang anak manusia tergelincir tidak kuat menahan gejolak permasalahan yang kerap melanda biduk rumah tangga.


Beginilah sejatinya biduk perkawinan. Penuh suka duka yang silih berganti, benci dan cinta hanya senadi. Segalanya begitu dekat dan jika kita tidak dapat menyelesaikan dengan bijak, maka akan sulit untuk menghalau masalah yang tidak akan ada habisnya.


Dihubungkan dengan kehidupan nyata puisi ini dapat dikatakan miniatur kehidupan perkawinan. Segala yang ada dalam setiap bait-bait sistematis dengan kemasan tipografi zigzag vertikal ini. Kawin menjadi winka. Kasih menjadi sihka. Kehidupan hanyalah saling berkebalikan. Jika dapat berbahagia maka kesedihan juga dapat menerpa, jika dapat mencintai maka dapat pula membenci, dan jika dapat bersatu maka dapat bercerai. Sebagaimana realita kehidupan nyata kehidupan perkawinan selalu rawan dengan perceraian.

Dua insan yang disatukan dalam janji suci pernikahan tak jarang yang tak mampu mempertahankan. Kehidupan perkawinan memang penuh dengan masalah. Sebagaimana yang ditirukan tipografi dalam puisi ini, lika-liku dan curam. Kehidupan pernikahan adalah bahagia sekaligus berbahaya. Rintangan, masalah datang silih berganti, oleh karena itu perceraian akan jadi akhir perkawinan jika komitmen tidak mampu dijaga, rasa percaya telah tiada, tidak ada lagi cara menghapus luka dan tak ada lagi rasa suka. ***suaraserumpun.com

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *