Beranda All News Mengenang Wan Izhar Abdullah, Wawako Pertama Kota Tanjungpinang (Bagian IV-Habis)

Mengenang Wan Izhar Abdullah, Wawako Pertama Kota Tanjungpinang (Bagian IV-Habis)

0
Syafaruddin ASN Disbudpar Tanjungpinang. F- Istimewa/Dokumentasi syafaruddin

Oleh: Syafaruddin SSn MM
Pamong Budaya Madya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang

Surya dari Timur
Perkembangan daerah Pulau Tujuh khususnya Natuna setelah pengakuan kedaulatan semakin hari semakin baik. Perekonomian masyarakat Natuna semakin lancar. Pada waktu itu banyak kapal yang menyinggahi Natuna seperti, kapal.Indari, kapal Haihong, kapal Scot Ali, kapal Taipi. Hasil bumi dari Natuna dibawa para pedagang ke Singapura dan daerah Indonesia lainnya.

Daerah Kepulauan Riau kembali bermandikan dolar. Seluruh daerah Kepulauan Riau waktu itu menggunakan mata uang dolar sebagai alat pembayaran. Termasuk daerah Natuna. Natuna yang sejak dulu menjadi perhatian masyarakat daerah lain kini kembali menjadi tujuan mencari rezeki.
Tahun 1950 Wan Izhar mulai bersekolah di Sekolah Rakyat yang terdapat di kecamatan Midai. Halaman sekolah itu tidak terlalu luas. Tetapi cukup untuk anak-anak bermain, berlari berkejar-kejaran.Di sekolah yang kecil itulah Wan Izhar diajar mengenal huruf dan angka, membaca tulisan jawi.

Masa kecil Wan Izharnya di Midai cukup senang jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya di sekitar perkampungan tersebut. Penghasilan orang tuanya dari kebun yang dimiliki di Bunguran dan Midai cukup mampu membiayai kehidupan keluarga mereka. Dari hasil kebun yang luasnya lebih kurang 20 ha itulah Wan Abdullah menyara keluarganya. Namun demikian Wan Izhar tidaklah manja dengan apa yang dimiliki oleh keluarganya. Dia berteman dengan siapa saja. Tidak membedakan miskin atau kaya. Wan Izhar sangat disenangi oleh teman-temannya karena dia cukup mudah bergaul. Sifat mengayomi orang yang lemah telah tampak sejak masa kecil. Saat masa sekolah rakyat, Wan Izhar tergolong pintar.

Tanda-tanda kepemimpinannya telah tampak sejak di bangku sekolah. Beliau sering ditunjuk sebagai pemimpin rekan-rekannya setiap ada kegiatan. Pada tahun 1956, Wan Izhar menyelesaikan pendidikan sekolah rakyat atau sekolah dasar. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat, Wan Izhar berkeinginan melanjutkan pendidikan ke SMP. Itu berarti beliau harus meninggalkan kampung halamannya. Tujuannya adalah Tanjungpinang. Keinginan itu diutarakannya kepada kedua orang tuanya. Namun jawaban yang diinginkan tidaklah seperti apa yang diharapkan. Orang tuanya lebih memilih agar Wan Izhar tetap di kampung, berkebun membantu orang tua.

Keberatan orang tua Wan Izhar pada waktu itu cukup beralasan. Saat itu hasil pertanian mulai membaik. Lagi pula umur Wan Izhar waktu itu baru 14 tahun. Sungguh usia yang sangat belia. Orang tua mana yang sanggup berpisah dengan anak semata wayang, merantau jauh di negeri orang. Pada saat itu transportasi laut sangat kurang. Sekali-sekala saja kapal menyinggahi kepulauan Natuna. Akan tetapi Wan Izhar yang telah ditempa oleh ganasnya perang, susahnya hidup, tidak menyerah begitu saja. Dengan berbagai upaya akhirnya kedua orang tuanya merelakan kepergian beliau ke Tanjungpinang. Dengan menggunakan kapal barang Wan Izhar berangkat mengarungi ganasnya Laut Cina Selatan.

Baca Juga :  Praveen/Melati Disingkirkan Ganda Campuran Juara 1 Dunia

Pada saat itu sangat sedikit pemuda Natuna yang berjiwa seperti Wan Izhar Abdullah. Hasil bumi yang melimpah dan uang yang banyak telah menutup pemikiran anak-anak Natuna untuk bersekolah. Membuka hutan, menanam karet dan cengkeh menurut mereka lebih baik dari pada merantau menuntut ilmu. Kondisi ini memang berat bagi sebahagian orang tua. Mereka sangat mengharapkan tenaga putra-putri mereka untuk membantu membuka lahan pertanian.

Di Tanjungpinang, Wan Izhar mulai hidup mandiri. Merantau di usia yang masih belia telah menempa jiwanya untuk hidup dan bekerja keras. Mandiri jauh dari orang tua. Kehidupan seperti ini mampu membentuk karakter Wan Izhar yang sedang mencari jati diri.

Pada saat itu Tanjungpinang merupakan satu-satunya negeri yang terbilang maju di Kepulauan Riau. Terbukti dengan ditunjuknya Tanjungpinang sebagai ibu kota Propinsi Riau yang pertama. Di Tanjungpinang Wan Izhar mendaftarkan dirinya di SMP Negeri 1 Tanjungpinang.

Tidak lama Wan Izhar bersekolah di SMP Negeri 1 Tanjungpinang. Hanya 6 bulan beliau bersekolah di sana. Tidak banyak kesan yang teringat kecuali pada saat itu mereka diajari bahasa Inggris dan Belanda. Kemudian beliau pindah ke SGB Negeri yang beralamat di Jalan Teuku Umar Tanjungpinang. SGB adalah sekolah guru yang mempersiapkan tenaga guru untuk mengajar di sekolah rakyat. Pada tahun 1959 Wan Izhar telah dapat menyelesaikan pendidikannya. Kemudian beliau melanjutkan ke SGA.

Pada masa itu kemudahan dalam belajar masih sangat minim. Transportasi sangat terbatas. Untuk menuju sekolah, banyak diantara pelajar berjalan kaki menempuh perjalanan yang cukup jauh. Dari tempat tinggalnya, Wan Izhar berjalan kaki menuju sekolah yang jaraknya lebih kurang 2 km. Namun jarak itu bukan halangan untuk menuntut ilmu. Terbukti Wan Izhar dapat menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang memuaskan.

Kondisi perpolitikan di tanah air pada masa itu kembali suram. Pada tahun 1959 Malaya merdeka. Tidak lama setelah itu pecah konprontasi antara Malaysia dan Indonesia. Hubungan dagang kembali terputus. Tanjungpinang pada saat itu cukup mencekam. Tentara Indonesia yang dikirim dari Jawa berdatangan ke tanah Bintan. Wan Izhar yang waktu itu menginjak remaja, ikut serta dalam berbagai kegiatan propaganda GANYANG MALAYSIA.

Kepulauan Riau kembali mengalami masa sulit. Hubungan dengan Singapura terputus. Puncaknya pada tahun 1963. Mata uang dolar tidak dipakai lagi, berganti dengan uang Kepulauan Riau atau sering disebut uang KR. Meskipun demikian Wan Izhar berusaha menyelesaikan pendidikannya. Akhirnya Wan Izhar dapat menyelesaikan pendidikannya di SGA pada tahun 1969.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SGA Wan Izhar mendapat SK pertamanya untuk menjadi guru. Dengan perasaan bangga beliau melaksanakan tugas untuk mengajar di SD Negeri 002 Bintan Selatan. Sekolah ini merupakan sekolah tertua setelah merdeka. Dibangun pada tahun 1948.

Baca Juga :  Juara Regional Kepri, SSB BBM Kepri Melaju ke Kejurnas U17 FOSSBI di Banten

Gaji yang diterima Wan Izhar pada saat itu sebesarRp, 60,- . Dengan gaji sebesar itu Wan Izhar tidak pernah mengeluh. Apa yang diterima beliau saat itu adalah karunia tuhan yang patut disukuri. Di Sekolah Dasar tersebut Wan Izhar menjadi guru dengan baik. Beliau membimbing siswanya dengan penuh rasa tanggung jawab dan dengan dedikasi yang tinggi.

Pada Tahun 1973 Wan Izhar bertemu dengan kekasih pujaan hatinya. Seorang gadis yang cukup cantik telah menawan hatinya. Gadis tersebut adalah putri dari Wan Muhammad Zain yang bernama Wan Faizah. Wanita tinggi semampai, berkulit kuning langsat, berhidung mancung dan rambut ikal mayang itu telah membuat Wan Izhar mabuk kepayang.

Pertemuan Wan Izhar dan Wan Faizah bak kata pepatah’ kalau jodoh takkan kemana’. Waktu itu Wan Faizah sedang menuntut di Sekolah Pendidikan Guru Tanjungpinang. Biasanya siswa SPG yang akan menyelesaikan pendidikannya harus menjalani kegiatan praktek mengajar. Wan Faizah mendapat tempat prakteknya di SD Negeri 002. Pertemuan tersebut telah menyemai getar-getar cinta diantara keduanya. Dewi asmarapun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menembakkan anak panah asmara di hati keduanya. Sampailah akhirnya mereka berjanji untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pelaminan. Akhirnya pada tanggal 31 Maret 1973 beliau menikah.

Kehidupan baru dijalani Wan Izhar bersama istri tercinta dengan penuh keprihatinan. Beliau menempati rumah kecil di jalan Sumatera. Setelah menikah Wan Izhar kembali menjalani rutinitas kehidupannya sebagai guru di SD Negeri 02 Bintan Selatan. Pengalaman yang sangat mengesankan adalah saat beliau membimbing seorang siswa yang terbilang bodoh. Siswa tersebut bernama Sofyan. Karena saking bodohnya banyak guru yang menyerah tidak mampu mengajarnya. Akhirnya Wan Izhar mengambil alih untuk membimbing siswa tersebut.

Dengan penuh kesabaran Wan Izhar membimbing Sofyan. Sehinggalah Sofyan yang dulunya dianggap bodoh oleh guru lainnya kini menjadi guru olahraga di SMP Negeri 2 Tanjungpinang dan SMK Pembangunan.

Semua yang dilakukan oleh Wan Izhar adalah wujud dari seorang guru sejati. Guru yang tidak pernah mengeluh, guru yang tidak mengharapkan balas jasa, guru yang tidak mengharapkan pamrih. Guru yang hanya bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa. Guru yang hanya dijanjikan pahala di sisi Tuhan-nya.

Keberhasilan Wan Izhar dalam membimbing Sofyan menarik perhatian Encik Khatijah, yang waktu itu menjadi Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bintan Selatan. Wan Izhar ditawarkan untuk melanjutkan pendidikannya ke Pekanbaru. Tawaran tersebut disambut baik oleh Wan Izhar. Pada penghujung tahun 1973, Wan Izhar menyeberang ke Sumatera. Sebuah negeri yang jauh. Beliau melanjutkan pendidikannya di Pekanbaru tepatnya di UNRI jurusan Seni rupa.

Pada saat itu Pekanbaru meskipun sebagai Ibukota Propinsi Riau, akan tetapi merupakan daerah yang sangat jauh. Transportasi sangat minim. Meskipun demikian Wan Izhar tidak merasa gentar. Dengan menumpang kapal barang beliau berangkat menyongsong hari depan yang lebih baik.

Baca Juga :  Gubkepri Bahas Bandara RHA, Pelabuhan Malarko, dan BLK di Karimun

Jiwa-jiwa baja seperti yang dimiliki Wan Izhar pada saat itu masih sangat sedikit. Sepertinya semangat itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki pandangan jauh ke depan. Seakan tahu apa yang dibutuhkan negeri ini di masa yang akan datang.

Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan studinya di Pekanbaru. Ada peristiwa yang paling diingat, yaitu satu mata kuliah yang sulit untuk lulus. Berkali-kali mengulang seakan-akan dosen mata kuliah tersebut tidak mengenal nama Wan Izhar dalam daftar nilai yang dibuatnya.

Wan Izhar hampir putus asa. Namun pada suatu kesempatan dimana dosen tersebut melahirkan, Wan Izhar menyusun strategi. Dengan langkah pasti Wan Izhar berjalan kaki bergerak menuju rumah dosen dimaksud sambil mengepit dua buah sabun mandi yang dibungkus rapi. Sang dosen agak bingung melihat kehadiran Wan Izhar. Dengan wajah yang lugu dan tanpa berpikir panjang lagi Wan Izhar mengulurkan tangan pada dosennya sambil mengucapkan selamat atas kelahiran anaknya.

Setelah berbicara panjang lebar, suasana semakin mencair. Pada kesempatan itulah Wan Izhar menanyakan sebab nilainya tidak pernah lulus. Akhirnya ibu dosen tersebut menyerah dan berkata bahwa sebenarnya Wan Izhar telah lama lulus mata kuliah yang diajarkannya.

Sebelum pulang dosen tersebut tidak lupa menasehati agar Wan Izhar tidak lagi mengulang perbuatan yang dilakukan terhadapnya. Apa yang telah dilakukan oleh Wan Izhar terhadap dosennya sampai hari ini tetap menjadi rahasia mereka berdua.

Di sini nampak bahwa Wan Izhar telah lama memiliki kemampuan politik kelas tinggi. Bertindak dengan akal dan pikiran. Berpikir dengan jernih, ibarat menarik rambut dalam tepung itulah prinsif beliau dalam memecahkan masalah.

Wan Izhar juga tercatat pernah menjadi Komandan Resimen Mahasiswa UNRI. Pengalaman tersebut juga ikut member andil pada sikap kepemimpinannya. Akhirnya di penghujung tahun 1978, Wan Izhar berhasil meraih gelar sarjana. Pada masa itu apabila seorang anak mampu meraih gelar sarjana, merupakan sebuah kebanggaan yang sangat besar. Tidak banyak yang mampu melakukan itu, apalagi seorang pemuda dari Natuna. Anak-anak muda masa itu lebih senang membuka lahan pertanian. Tidak dapat dibayangkan betapa bangganya orang tua Wan Izhar melihat anaknya kini bergelar doctorandus Wan Izhar Abdullah.

Bulir pasir utara
Telah siratkan hidup setiap jiwa
Tiada pernah menyangka
Ada mutiara tercecer lepas dari cangkangnya
Terasah
Teruji
Oleh belaian ombak
Munculkan sinar gemerlap
Terangi pelosok negeri
Aku di sini
Jadi mentari
Berikan pelita pada semua
Aku disini
Jadi rembulan
Berikan cahaya
Teduhkan jiwa
Aku disini
Jadi gemintang
Tunjukkan jalan
Pada nelayan di lautan
Aku disini
Menjadi bayu
Tiupkan layar gerakkan perahu
Matahari
Bulan
Bintang
Angin
Maaf jangan cemburui aku. ***

Editor: Sigik RS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here