Beranda All News Mengenang Wan Izhar Abdullah, Wawako Pertama Kota Tanjungpinang (Bagian I)

Mengenang Wan Izhar Abdullah, Wawako Pertama Kota Tanjungpinang (Bagian I)

0
Syafaruddin. F- Istimewa/dokumentasi syafaruddin

Oleh: Syafaruddin SSn MM
Pamong Budaya Madya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang

DIANGKATNYA kembali tulisan ini mengingat bahwa kita harus mengenang para pendahulu kita. Jangan sampai kita melupakan sejarah. Sebab setiap jiwa selalu memiliki sejarahnya sendiri. Apalagi orang yang telah memberi warna pada tanah kita ini. Semestilah beliau kita kenang, kita ingatkan pada anak cucu kita setidaknya adalah nama mereka terpatri di sebuah ruas jalan di Kota Tanjungpinang ini.
Wan Izhar Abdullah teah terpilih sebagai wakil waikota Tanjungpinang pada saat itu tentuah bukan kebetulan. Beliau terpiih dari akumulasi earna kehidupan yang telah melahirkan sebuah pelangi yang indah.

Satu Hari di Tepi Laut Tanjungpinang
Pagi itu tanggal 16 Desember 2002 kesibukan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tanjungpinang berbeda dari hari biasanya. Semua orang kelihatan sibuk mempersiapkan sesuatu. Semuanya bekerja dengan cekatan seakan dikejar oleh waktu. Pada hari itu memang akan terjadi sesuatu yang menentukan arah kota kecil namun penuh sejarah yakni Tanjungpinang. Pada hari itu akan diadakan pelantikan Walikota dan Wakil Walikota terpilih untuk memimpin kota Tanjungpinang untuk lima tahun kedepan, tepatnya priode 2002 sampai dengan 2007.

Setelah menjadi kota otonom, dengan terbitnya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Otonom Tanjunginang, lebih kurang satu tahun Tanjungpinang dipimpin oleh pejabat sementara yang bertugas mempersiapkan segala perangkat sebagai sebuah kota. Puncaknya adalah terselenggaranya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat. Dengan terpilihnya para wakil rakyat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tanjungpinang, Kota Tanjungpinang semakin mantap melangkah. DPRD Kota Tanjungpinang juga segera bekerja dengan cepat. Langkah pertama yang harus disegerakan adalah melaksanakan pemilihan kepala daerah Kota Tanjungpinang.

Dua pasangan Walikota dan Wakil Walikota bertarung memperebutkan kursi orang nomor satu dan nomor dua di Tanjungpinang. Akhirnya terpilihlah Hajah Suryatati A.Manan dan Haji Wan Izhar Abdullah sebagai Walikota dan Wakil Walikota Tanjungpinang. Munculnya Walikota dan Wakil Walikota terpilih, merupakan babak baru dalam perjalanan kota kecil ini. Setelah melalui perjalanan yang berliku akhirnya Tanjungpinang dapat menata diri sebagai sebuah kota otonom. Di pundak Walikota dan Wakil Walikota terpilih tertitip harapan masyarakat Tanjungpinang.

Baca Juga :  Cen Sui Lan Bawa Komisi V DPR RI dan Dirjen ke Kepri, Kunsfik Progres Jembatan Batam-Bintan

Tepat pukul 10.00 waktu Indonesia Barat saat yang ditunggu akhirnya tiba. Di depan nampak Walikota dan Wakil Walikota terpilih terlihat tenang dan berwibawa. Suasana hati yang penuh kebahagiaan jelas terlihat pada wajah mereka. Tidak lama kemudian Gubernur Riau, Saleh Jasid berdiri untuk mengambil sumpah. Selanjutnya Hajah Suryatati A.Manan dan Haji Wan Izhar Abdullah maju ke hadapan membelakangi undangan yang hadir.

Kemudian acara pengambilan sumpah dilaksanakan. Setelah semuanya selesai seluruh undangan memberikan ucapan selamat. Dengan didampingi oleh pasangan hidup masing-masing, Hajah Suryatati A. Manan dan Haji Wan Izhar Abdullah membalas ucapan tersebut dengan senyum, seolah-olah ingin berbagi kebahagiaan. Di samping itu juga berharap agar mereka didukung dalam menjalankan roda pemerintahan lima tahun ke depan.

Keesokan harinya seluruh surat kabar lokal menulis head line news tentang pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Tanjungpinang. Semuanya berisi harapan Tanjungpinang ke depan. Perjalanan hidup kedua pemimpin baru kota Tanjungpinang menjadi berita hangat yang menghiasi tulisan di koran-koran.

Mengapa harus Haji Wan Izhar Abdullah?

Di kalangan guru-guru, Haji Wan Izhar Abdullah yang selalu dipanggil “Pak Wan”, dikenal biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada diri beliau. Yang banyak diingat adalah sikap beliau yang selalu serius, tidak banyak berbicara. Cuma senyum saja yang selalu tersungging di wajahnya bila berpapasan. Di dalam bidang politikpun merupakan dunia baru yang ditekuni beliau. Akan tetapi tentunya ada alasan lain sehingga beliau ditunjuk untuk mendampingi Hajah Suryatati A.Manan dalam pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tanjungpinang.

Pergolakan politik tanah air yang terjadi pada tahun 1997 ternyata banyak mempengaruhi perpolitikan di daerah. Arus perubahan itu juga melanda Tanjungpinang. Munculnya daerah pemekaran berdampak pada pengembangan sayap-sayap partai politik di daerah. Perkembangan ini menyebabkan munculnya para politikus muda yang berkiprah di daerah baru. Mereka sangat minim pengalaman. Termasuklah Tanjungpinang sebagai Kota pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Riau waktu itu.

Kondisi sumber daya manusia Kota Tanjungpinang sejak berpisah dengan Kabupaten Kepulauan Riau sangat riskan. Sumber Daya Manusia yang potensial banyak bermastautin di Kabupaten Kepulauan Riau. Sementara orang yang arif dan berpengalaman di Tanjungpinang tidak begitu banyak, termasuklah di lingkungan politik. Akhirnya partai Golongan Karya yang merupakan partai berpengalaman mengusung kadernya yakni Haji Wan Izhar Abdullah untuk mendampingi Suryatati A, Manan dalam pemilihan kepala daerah yang pertama Kota Tanjungpinang.

Baca Juga :  Cen Sui Lan Mengawal Program Penanganan Banjir di Tanjungpinang dan Batam hingga Tuntas

Haji Wan Izhar Abdullah adalah sosok yang tepat, beliau adalah orang yang berpengalaman dalam bidang pendidikan. Di samping itu beliau memiliki kearifan dalam kemasyarakatan. Sehingga tepatlah jika beliau mendampingi Hajah Suryatati A.Manan untuk menakhodai kota Tanjungpinang untuk jangka waktu lima tahun.

Guru adalah sebuah pengabdian
Terkadang banyak orang yang iri melihat sosok seorang guru. Guru dipandang sebagai manusia yang sempurna, serba tahu, dan mampu menjadi apa saja. Akan tetapi tidak banyak yang berkeinginan menjadi guru jika melihat dari sisi kehidupannya. Bagi Pak Wan, guru adalah sebuah pengabdian. Beliau telah merintis sejak usia masih sangat muda. Keinginan mencerdaskan anak bangsa telah tercermin dengan keputusannya masuk SGB.

Menjadi seorang guru tidak mengenal istilah pensiun. Guru dapat berkarya dimana dan kapan saja. Itulah filosofi yang dipegang Pak Wan sehingga beliau dapat berkiprah di semua lini kehidupan. Filosofi seorang guru yang digugu dan ditiru, telah menjadikan PakWan sebagai sosok yang selalu memberi tauladan dalam berpikir dan bertindak.

Dalam jabatannya sebagai Wakil Walikota, sikap seorang guru tetap nampak dalam setiap jejak langkahnya. Banyak hal yang telah beliau tanamkan pada para pegawai di lingkungan pemerintah Kota Tanjungpinang. Beliau telah mengajarkan tentang arti kesederhanaan meskipun saat kita berada di puncak kesuksesan. Tawadu’ menerima apa yang telah dikarunia oleh Allah merupakan pelajaran yang berharga dalam memaknai arti hidup dan kehidupan.

Dalam beberapa kasus yang terjadi di lingkungn pemerintah kota Tanjungpinang, Pak Wan selalu dapat meredam dan mengembalikan keadaan. Soal disiplin pegawai Pemerintah Kota Tanjungpinang pernah beliau sindir para kepala bagian yang jarang apel saat Walikota keluar daerah. “saudara jangan menganggap Walikota itu suryatati. Kalau suryatati pergi lantas Walikota juga pergi sehingga anda semua berbuat seenaknya. Saya tidak minta dihormati, tapi tolong disadari. Tunjukkan bahwa anda menjadi kepala dinas, kantor bidang dan bagian bukan karena suryatati atau saya tapi karena kemampuan anda. Jika anda berbuat seperti itu lantas apa yang dapat kami banggakan pada diri anda.”

Baca Juga :  Utang dan Moneter di Tengah Dominasi Fiskal

Pada saat berhembus angin mutasi para pegawai, beliau selalu menegur mereka yang kasak-kusuk kesana-kemari mencari lowongan. “Kami punya mata, telinga untuk merekam semua pegawai di pemko ini. Jadi tak perlulah kasak-kusuk mencari perhatian. Jika memang anda mampu tentu akan kami percayakan memimpin sebuah instansi. Jangan hidung tak mancung, pipi tersorong-sorong.”

Kalau Pak Wan sudah berbicara seperti itu, para peserta apel hanya bisa tersipu, tertawa tak sedap. Pegawai honor yang berlaku seperti ‘tuan besar’ juga tidak luput dari pandangan beliau. Pak Wan selalu mengigatkan para tenaga honorer untuk bekerja lebih baik, dan bersikap lebih sopan kepada masyarakat. “Jika kalian mempermasalahkan saya atau buk wali jarang apel pagi, masuk kantor selalu terlambat, ya sudah, kalian saja yang jadi Walikota dan Wakil Walikota . saya dan Buk Tatik jadi kalian.”

Itu adalah sebagian kecil pelajaran yang telah beliau tanamkan pada para pegawainya. Sesungguhnya pada diri beliau sendiri banyak terdapat nasehat yang patut dicontoh. Beliau pernah menyampaikan bahwa menjadi Wakil Walikota seakan-akan mimpi. Tidak pernah beliau membayangkan bahwa akan seperti ini. Dari seorang guru, kemudian terlunta-lunta karena SPG tutup, lalu menjadi tutor di Universitas Terbuka. Kemudian beliau terjun ke kancah politik. Beliau telah mengajarkan banyak hal pada teman-teman partainya dalam hal berpolitik yang baik. Sifat guru beliau selalu muncul dimana saja beliau berada dan menempatkan beliau sebagai panutan. Karena sifat tawadu’ dan berdedikasi tinggi terhadap pekerjaan, telah membawa beliau pada kedudukan yang lebih tinggi.

Tuhan tidak tidur,
sayang
Tuhan tidak buta
Tuhan tidak tuli,
sayang
Tuhan tidak bisu.

Tuhan ada di sini,
Di hati kita yang suci
Sesuci embun pagi.

Hati yang tak mau simpankan dengki
Meskipun dizalimi

Hati yang tak biarkan jiwa berkarat
Meskipun dikhianat

Hati yang tak simpankan duri dendam
Meskipun dia selalu diredam

Ambil sajadah
Sujud dan berdoalah
Sambutlah keajaiban Tuhanmu.
Sayangku
percayalah
Mukjizat itu akan datang jua akhirnya. (bersambung). ***

Editor: Sigik RS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here