Beranda All News Tiga Kawasan di Kepri Jadi Pintu Masuk Wisman, Bandara Hang Nadim Belum...

Tiga Kawasan di Kepri Jadi Pintu Masuk Wisman, Bandara Hang Nadim Belum Punya TCM

0
Bandara Hang Nadim Batam dijadikan pintu masuk bagi wisatawan mancanegara. F- nurul atia/suaraserumpun.com

Tanjungpinang, suaraserumpun.com – Tiga kawasan di Provinsi Kepri, sudah ditetapkan menjadi pintu masuk bagi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) atau turis asing. Namun, dari tiga pintu masuk wisman ke Kepri itu, bandar udara Hang Nadim Batam belum menyediakan alat Tes Cepat Molekuler (TCM).

Program travel bubble ke Kepri segera dibuka, khususnya untuk wilayah Batam dan Bintan. Sebelum travel bubble di Kepri dijalankan, segala bentuk kesiapan di bandara dan pelabuhan yang menjadi akses utama keluar dan masuknya turis mancanegara, segera dilengkapi.

Tiga kawasan sebagai pintu masuk wisman di Kepri itu di antaranya adalah bandara Hang Nadim Batam. Bandara ini ditunjuk untuk melakukan pelayanan wisman dan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Pelabuhan feri di Nongsa Batam untuk wisman dan PMI, serta pelabuhan Bandar Bentan Telani (BBT) Lagoi-Bintan untuk melayani wisman.

Sedangkan pelabuhan Batam Centre, digunakan sebagai pintu masuk untuk PMI. Sementara, bandara RHF Tanjungpinang sedang dikoordinasikan pihak Angkasa Pura II ke bandara Soekarno-Hatta. Kawasan yang jadi pintu masuk wisman dan PMI itu harus disiapkan, sesuai dengan keputusan Satgas Covid-19.

Atas nama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Dinas Perhubungan Junaidi meminta agar semua manajemen bandara dan pelabuhan yang ditunjuk tersebut, segera menyiapkan segala fasilitas pendukung, supaya bisa segera menerima kedatangan wisman. Terutama yang harus disiapkan itu adalah terkait alat-alat penunjang protokol kesehatan. Seperti alat Tes Cepat Molekuler (TCM) sebagai pengganti PCR dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.

Baca Juga :  Kdn Menghamili Anak Tiri Berusia 13 Tahun, Ditangkap Polsek Palmatak

Jika PCR, hasilnya baru diketahui setelah menunggu sekitar 8 jam. Sedangkan dengan alat TCM, akan diketahui hasilnya hanya dalam waktu 1 jam. Dan alat ini diminta harus segera disiapkan di setiap bandara dan pelabuhan yang telah ditunjuk.

“Untuk Bandara RHF Tanjungpinang pada dasarnya sudah siap melayani. Namun untuk sementara, fokus di Hang Nadim Batam. Kita akan evaluasi, jika ternyata wisman yang datang lewat Hang Nadim membludak barulah RHF kita fungsikan,” kata Junaidi saat memberikan keterangan pers, Minggu (17/10/2021).

Tapi, Junaidi menyayangkan, ternyata di bandara Hang Nadim Batam, sampai saat ini belum menyediakan alat TCM yang diperlukan tersebut. Padahal alat tersebut menjadi syarat penting untuk program dibukanya travel bubble ini.

“Bandara Hang Nadim ini kan di bawah pengelolaan BP Batam. Seharusnya segala fasilitas dan sarana prasarananya, segera dipersiapkan. Pemprov Kepri dalam hal ini tetap melakukan pengawasan melalui Satgas Covid-19,” ujar Junaidi.

Untuk menyukseskan program travel bubble yang diyakini akan mampu menjadi sumbu hidupnya kembali pariwisata di Kepri, maka diperlukan kerja sama semua pihak. Baik pemerintah kabupaten/kota dan perangkat daerah terkait.

Baca Juga :  Antigen Tak Berlaku, Warga Tambelan Tak Bisa ke Pontianak, Stok Sembako Terancam

“Masing-masing bekerja sesuai dengan kapasitasnya berdasarkan tupoksi masing-masing. Untuk bandara apa yang harus disiapkan agar segera dilakukan. Begitu juga di pelabuhan hingga ke area wisata yang menjadi tujuan. Jadi tidak ada siapa menunggu apa yang harus dibuat. Begitu pesan Gubernur Kepri,” tambah Junaidi.

Sebagaimana diumumkan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, bahwa ada 19 negara yang nantinya diizinkan masuk ke Indonesia. Negara-negara tersebut meliputi Saudi Arabia, United Arab Emirates (UAE), Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Perancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia.

Daftar 19 negara yang masuk ke Indonesia ini hanya berlaku khusus untuk penerbangan langsung ke Bali dan Kepulauan Riau (Kepri). Untuk di Kepri, bandara Hang Nadim yang berada di Kota Batam, dan satu lagi Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang.

Untuk Bandara RHF Tanjungpinang, ujar Junaidi, saat ini General Manager (GM) Angkasa Pura II Tanjungpinang sedang melakukan koordinasi dengan Bandara Soekarno Hatta, dan Bandara di Bali, agar mengetahui pola dan prosedur yang dilakukan.

“Saya baru menghubungi GM-nya, saat ini pihak Angkasa Pura Tanjungpinang sedang melakukan koordinasi dengan Bandara Soekarno Hatta. Besok, mereka akan ke Bandara di Bali, guna melihat langsung bagaimana prosedur dan kesiapan fasilitas disana,” ucap Junaidi.

Baca Juga :  Menpora Ingin Indonesia Punya Lab Antidoping

Pelaku perjalanan dari 19 negara tersebut di atas dapat masuk ke Bali dan Kepri, dengan syarat yang sudah disepakati, seperti melampirkan bukti sudah melakukan vaksinasi lengkap dengan waktu minimal 14 hari sebelum keberangkatan yang dibuat dalam Bahasa Inggris. Serta memiliki hasil TCM sebagai pengganti PCR. Setelah sampai ke Bali dan Kepri, Wisman tersebut juga akan melakukan proses karantina.

“Pada intinya kita semua telah sepakat travel buble ini segera dibuka. Dan sekali lagi Gubernur minta kerjasama kita semua, terutama pengelola pelabuhan dan bandara yang jadi akses utama keluar dan masuk wisman,” tegas Junaidi.

Melanjutkan arahan Gubernur Kepri, Junaidi juga menegaskan, dibukanya kunjungan wisman untuk Kepri, karena Kepri dinilai sudah layak untuk ini. Didukung dengan data dan fakta di lapangan, seperti capaian vaksinasi yang sudah mencapai 87 persen, menurunnya BOR, kasus terkonfirmasi positif harian dan sebagainya.

“Kalau belum layak, tentu pemerintah pusat tidak mengizinkan 19 negara ini masuk ke Kepri. Capaian vaksinasi 87 persen itu sudah cukup tinggi. Sisanya yang belum vaksin, karena memang ada yang tidak bisa divaksin karena sakit dan sebagainya,” kata Junaidi menambahkan. (nurul atia)

Editor: Sigik RS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here