Beranda All News Inflasi di Kepri Masih Stabil dan Terkendali

Inflasi di Kepri Masih Stabil dan Terkendali

0
Ansar Ahmad Gubernur Kepri memaparkan data inflasi dan pertumbuhan ekonomi daerah pada kegiatan TPID, Senin (11/10/2021). F- nurul atia/suaraserumpun.com

Tanjungpinang, suaraserumpun.com – Pemprov Kepri mengklaim, tingkat inflasi di Provinsi Kepri masih stabil dan terkendali. Gubernur Kepri Ansar Ahmad berharap, kondisi inflasi yang stabil ini bisa dipertahankan.

Hal itu disampaikan Gubernur Kepulauan Riau H Ansar Ahmad saat memimpin rapat pengendalian inflasi di seluruh wilayah Kepri, dalam kegiatan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Kepri, dengan tema Capacity Building, Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Nilai Tambah Ekonomi melalui Optimalisasi Sektor Pertanian dan Perikanan’.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Haris Batam oleh Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri. Sedangkan Gubernur Kepri mengikuti melalui zoom meeteng dari ruang kerjanya, di lantai 4, kantor Dompak, Tanjungpinang, Senin (11/10/2021). Capacity Building TPID Kepri ini untuk menambah wawasan dan kompetensi terkait pengendalian inflasi TPID se-Kepulauan Riau.

Gubernur Kepri mengatakan, perekonomian Kepri di tahun 2021 ini telah tumbuh sebesar 6.9 persen (year on year), masih di bawah pertumbuhan perekonomian nasional yang mencapai 7.07 persen. Pandemi Covid-19 mempengaruhi perkembangan perekonomian di Kepri, juga berdampak pada terjadinya inflasi.

“Itu dikarenakan daya beli masyarakat yang terus menurun. Sehingga roda perekonomian jadi melambat,” ujar Ansar Ahmad.

Baca Juga :  Hari Lahir Pancasila, Ansar Ahmad Pakai Tanjak Saat Mengikuti Upacara secara Virtual

Turunnya daya beli dan pengalihan belanja masyarakat untuk kebutuhan primer, lanjut Gubernur, semakin membuat roda usaha makin melambat. Sehingga banyak usaha yang menghentikan kegiatannya karena tidak sanggup mempertahankan profitabilitasnya.

Provinsi Kepri merupakan daerah kepulauan dan bukan daerah penghasil komoditi bahan pangan. Sehingga sebagian besar bahan pangan didatangkan dari luar daerah Kepri. Komoditi yang sering memberikan andil besar sebagai penyumbang inflasi di Kepri antara lain beras, sayur, cabai, telur. Ayam dan daging. Atau sebagian besar merupakan komoditas bahan pangan yang didatangkan dari daerah lain. Baik dari Sumatera maupun Pulau Jawa.

Adapun kondisi inflasi di Provinsi Kepri pada bulan September tahun 2021 tercatat sebesar 0,31 persen. Lebih tinggi dibanding inflasi nasional sebesar -0,08 persen. Sasaran inflasi Kepri 2021 berdasarkan RPJMD Provinsi Kepulauan Riau sebesar 3,5 ± 1 persen. Sedangkan kondisi dari Januari sampai dengan Juli 2021 secara kumulatif, Provinsi Kepulauan Riau mengalami inflasi sebesar 0,52 persen (ytd) atau 2,07 persen (yoy).

“Selama masa pandemi Covid-19 sampai dengan tahun 2021, Kepulauan Riau telah mengalami beberapa bulan deflasi. Hal ini bukan mencerminkan terjadinya penurunan harga melainkan lebih dikarenakan rendahnya daya beli masyarakat dan rendahnya permintaan barang dan jasa,” ujar Gubernur Kepri.

Baca Juga :  Aneh, Kok Wako yang Mengukuhkan Bunda PAUD Kota Batam?

Untuk mengendalikan inflasi di Kepri, Gubernur Kepri berharap agar TPID fokus menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Terutama barang kebutuhan pokok. Untuk itu perlu lebih banyak kerja di lapangan atau di daerah, untuk mengatasi kendala produksi dan distribusi.

Selain itu, TPID harus proaktif mendorong sektor ekonomi agar tumbuh makin produktif. Dengan mendorong peningkatan produktivitas petani dan nelayan. Serta memperkuat sektor UMKM untuk bertahan dan naik kelas.

“Upaya-upaya penguatan peran UMKM pangan dalam ekosistem ekonomi secara terintegrasi disertai adaptasi pemanfaatan teknologi digital perlu terus diperluas dari hulu sampai hilir termasuk akses pasar yang lebih luas bagi UMKM pangan,” katanya.

TPID juga diminta agar melakukan monitoring indikator utama perekonomian daerah secara realtime. Serta melakukan identifikasi potensi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi melalui optimalisasi rantai nilai lokal (Local Value Chain), sebagai strategi baru dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi di daerah.

Menurut Ansar Ahmad, kunci dari pengendalian inflasi adalah berpedoman pada 4K yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Baca Juga :  Pj Sekda Kepri Mewacanakan Kerja Sama Bidang Pendidikan dengan UNP

“Hal ini pun, jika tidak ditambah dengan unsur kesadaran dari kepala daerah dan jajarannya, tentang pentingnya pengendalian inflasi maka dipastikan tidak akan ada implementasi kebijakan program 4K. Dan jika pun ada maka program 4K tersebut tidak akan berjalan seperti yang diharapkan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Wilayah Kepulauan Riau, Musni Hardi K Atmaja mengatakan, kerja pokok TPID adalah menjaga agar inflasi daerah bisa tetap rendah dan stabil. Sehingga daya beli masyarakat bisa dijaga.

Secara umum, kata Husni, TPID Kepri dinilai telah berhasil mengendalikan inflasi. Hal ini bisa dilihat dari tren yang semakin rendah sejak tahun 2017 di angka 4.02 peren, kemudian 2018 turun di angka 3.47 persen. Kemudian turun lagi menjadi 2.03 persen di 2019 dan terakhir menjadi 1.10 persen.

“Inflasi yang terjadi di Kepri dipengaruhi oleh faktor menurunnya daya beli masyarakat akibat pandemi Covid-19. Kita harus tetap bersyukur, karena walaupun di tengah pandemi, namun tingkat inflasi di Kepri masih bisa tetap terkendali,” tutupnya. (nurul atia)

Editor: Sigik RS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here