Beranda All News Cerpen: SEOLAH MASIH ADA

Cerpen: SEOLAH MASIH ADA

0
ilustrasi seolah masih ada.

Karya: Candra Ibrahim

RAYA tahun ini adalah kali keempat Syam tak balik kampung. Sebelumnya, dua kali karena keluarganya yang datang bertandang. Kali berikutnya karena corona. Eh, karena tiket mahal, katanya.

Anggota keluarga intinya tujuh. Dia, istri, 4 anak, dan kemenakan. Sekali jalan tiket bisa Rp15 juta. Dua kali transit. Belum lagi untuk buah tangan.

“Daripada untuk beli tiket, lebih baik uangnya buat beli bahan kue. Kamu yang masak. Kan banyak tuh resepnya di tiktok,” begitu kata Syam kepada istrinya, Nur. Dia mencoba menghibur.

Mulanya, Nur keberatan. Dia bahkan mengerahkan anak-anaknya untuk merayu, tepatnya memaksa Syam untuk mudik. Si kecil, Mer, merengek menggamit lengan bapaknya.

“Mer kangen sama nenek. Kemarin nenek video call nunjukin cat baru kamar kita,” rayu Mer. Suaranya terpatah-patah ala anak balita.

Kebiasaan di keluarga itu, kalau mudik, pasti disiapkan kamar khusus oleh nenek di kampung. Catnya biasa diganti setiap tahun. Tidak luas, bagian dalamnya saja yang diganti cat.

Baca Juga :  Kades Sebong Lagoi Menyatakan Tak Mengerti Roda Pemerintahan, Bikin Dewan Geram

“Nih, Mer, catnya bagus terus, karena sudah tiga tahun Mer tak mudik. Jadi kamarnya rapih aja. Tahun ini nenek pilihkan hijau tosca,” ucap nenek di balik video call.

Syam mendengar dari jauh percakapan antara nenek dan cucu itu. Dia pura-pura sibuk membetulkan wallpaper ruang tengah yang mulai mengelupas. “Dilem saja biar tak makin luas yang lepas,” batinnya.

Nur sebetulnya paham kondisi suaminya. Bukan hanya karena virus corona, namun jauh sebelum itu Syam sudah banting stir memulai usaha baru. Statusnya 5 tahun sebagai manager pabrik tak membuatnya nyaman. Kadang malu, sebab dalam hati harus berperang melawan batinnya. Di satu sisi dia juga buruh, tapi karena berpangkat, dia merasa kerap belagak seperti pemilik. Membela kepentingan perusahaan, meredam aspirasi teman-temannya. Padahal dia juga buruh di pabrik. Dia malu.

“Baiklah, Nur. Nanti saya akan bicara sama ibu dan bapak. Kondisi tahun ini belum memungkinkan berkumpul bersama. Pemerintah juga melarang maskapai untuk membawa pemudik,” ucap Syam usai sahur.

Baca Juga :  Ulang Tahun, Ansar Ahmad Bantu Pembangunan TPA Al-Hakim

Nur diam saja. Roman wajahnya masih sedih. Bapak dan Ibu yang disebut oleh suaminya sesungguhnya adalah orangtua kandungnya di Kalimantan sana. Sudah sangat dekat dengan Syam yang yatim piatu. Sudah lebih dari anak sendiri. Bahkan bapak dan ibunya lebih dekat dengan Syam dibanding dirinya sendiri.


Nur menghela nafas, setelah tadi video call dengan orangtuanya. Bapak dan ibunya nampak baru selesai Subuh berjamaah di ruang tengah sebuah rumah yang tetap sederhana. Di rumah itulah Nur dilahirkan 40-an tahun yang lalu. Jauh dari keramaian, di sebuah kabupaten di pinggir Kalimantan Barat. Orangtuanya punya beberapa hektare kebun nenas dan jeruk.

“Tak apa Nur. Bapak paham situasi kalian sekarang. Virus ini juga menyulitkan semua orang. Sabar saja. Kita doakan keadaan akan membaik tak lama lagi. Doakan juga bapak dan mamak sehat terus, sehingga kita masih bisa bersua” kata Pak Mus, ayah Nur. Mak Teh, ibunya Nur, diam saja.

Baca Juga :  146 PMI dari Malaysia Pulang ke Indonesia Lewat Tanjungpinang, Siang Ini

Wanita berparas Tionghoa itu mengangguk pelan sambil menyeka air matanya. Hidungnya mampet. Syam memperhatikan dari jauh. Iba hatinya. Anak-anak mereka sudah beranjak menuju kamar tidur. Mungkin bergelut dengan pikiran masing-masing, dengan kenangan berlebaran di kampung. Tentang dodol nenas buatan nenek dan ketupat rajutan kakek.

Tiba-tiba, Syam terbangun setengah terkejut. Dia tersentak. Cuaca terik siang itu membuat puasanya kian berat dan wajahnya berkeringat. Setengah pucat bibirnya bergetar sambil mengucapkan kalimat yang hampir tak terdengar.

“Astaghfirullah. Mengapa kenangan itu datang lagi? Mengapa harus dalam mimpi?”

Tubuh Syam masih lemas. Perlahan dia bangkit menuju kamar mandi. Dia berwudhu. Mimpinya tadi campur-aduk antara bunga tidur dan kenyataan.

“Oh, Allah, hamba mohon ampun,” rintihnya usai berwudhu.

Bibirnya masih bergetar, seolah Mak Teh masih ada. (***suaraserumpun.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here