Natuna, suaraserumpun.com – Bupati Natuna Cen Sui Lan memimpin rapat koordinasi dengan Forkopimda dan OPD untuk menghadapi kemarau panjang pada tahun 2026 ini di Kantor Bupati Natuna, Bukit Arai, Rabu (25/3/2026). Rakor tersebut guna menentukan langkah antisipasi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diprediksi akan terjadi dalam masa yang cukup panjang. Bupati Natuna pin menyatakan, Natuna saat ini dalam status siaga menghadapi kemarau panjang hingga Mei 2026 mendatang.
Rapat koordinasi tersebut dihadiri pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup, serta perwakilan BMKG. Dalam arahannya, Bupati Natuna Cen Sui Lan menegaskan pentingnya koordinasi lintas sektor untuk memastikan kesiapan seluruh pihak dalam menghadapi potensi karhutla yang kerap terjadi saat musim kemarau.
“Kita harus memastikan langkah-langkah yang diambil benar-benar tepat dan sesuai dengan prosedur. Rakor ini penting untuk mengevaluasi sekaligus menyusun strategi ke depan,” tegasnya.
Dalam pemaparan teknis, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Natuna Muhammad Syawal mengungkapkan tren peningkatan kejadian karhutla dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut, pada 2023 tercatat 72 kejadian, meningkat menjadi 114 kasus pada 2024, dan kembali naik menjadi 124 kasus pada 2025. Sementara hingga Maret 2026, telah terjadi 52 kejadian kebakaran.
Wilayah rawan kebakaran di antaranya berada di Kecamatan Bunguran Tengah, khususnya kawasan Binjai yang berbatasan dengan Bunguran Barat dan Bunguran Selatan.
Melihat tren tersebut, Syawal mendorong adanya pembangunan pos penjagaan permanen di titik-titik rawan.
“Kami berharap ada pos penjagaan di wilayah rawan agar respons penanganan bisa lebih cepat,” ujarnya.
Perwakilan BMKG, Asrul, menjelaskan bahwa periode Februari hingga April 2026 menjadi fase dengan curah hujan terendah di Natuna. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino yang meningkatkan suhu permukaan laut dan memicu kekeringan, serta diperkuat oleh angin muson Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia. Menurutnya, musim kemarau tahun ini datang lebih awal dan diperkirakan berlangsung hingga Mei 2026.
“Puncak kemarau terjadi pada Maret dan berpotensi berlanjut hingga April bahkan Mei. Kondisi ini meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah titik di Natuna,” jelasnya.
Menutup rapat, seluruh instansi sepakat memperkuat patroli terpadu serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya pencegahan dini, mengingat sebagian besar kebakaran lahan masih dipicu oleh aktivitas manusia.
Dengan sinergi lintas sektor dan kesiapsiagaan yang ditingkatkan, Pemerintah Kabupaten Natuna berharap mampu menekan angka kejadian karhutla serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan selama musim kemarau 2026. (yen)
Editor: Sigik RS
