banner 728x90
Warga menemukan penyu sisik mati terdampar di Pantai Senggiling, Kabupaten Bintan, Minggu (1/2/2026). F- warga

Selama Januari 2026, Sudah Lima Ekor Penyu Ditemukan Mati di Perairan Bintan

Komentar
X
Bagikan

Bintan, suaraserumpun.com – Selama Januari 2026, masyarakat menemukan lima ekor penyu mati di perairan Kabupaten Bintan. Minggu (1/2/2026) kemarin, warga Desa Sebong Lagoi, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Kepri menemukan seekor penyu sisik yang mati terdampar di Pantai Senggiling.

Warga setempat sempat kaget saat menemukan penyu mati terdampar di Pantai Senggiling, Kecamatan Teluk Sebong. Sebelumnya, warga menemukan penyu mati di perairan Bintan dan terdampar ke pantai di kawasan Bintan Lagoon Resort.

Seorang warga Roby menyatakan, dirinya pertama sekali menemukan penyu yang mati dan terdampar di Pantai Senggiling, Teluk Sebong. Roby menyebutkan, penyu yang mati terdampar itu memiliki panjang sekitar 50 sentimeter, dan berat sekitar 10 kilogram.

Penyu yang ditemukan mati itu diduga memakan sampah plastik, lalu terdampar ke pantai akibat ombak laut yang kencang di musim angin utara saat ini.

“Januari ini saja, sudah 5 ekor (penyu) yang ditemukan. Salah satunya, yang tim saya temukan di Bintan Lagoon kemarin,” ujar Roby kepada wartawan, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, bangkai penyu tersebut telah dikubur agar tidak mencemari udara sekitar. Saat ini, masalah limbah minyak hitam yang mencemari pantai dan laut sangat dikeluhkan nelayan dan pihak pelaku usaha pariwisata. Selain limbah minyak hitam cair, banyak karung berisikan limbah minyak hitam padat yang terdampar di pantai dan laut. Hal ini memperburuk kondisi lingkungan.

“Limbah minyak hitam memang sering terjadi di musim angin utara. Ini menjadi masalah tiap tahunnya,” kata Roby.

Roby berharap, masyarakat pesisir dan para pekerja kapal agar tidak membuang sampah ke laut.

“Tak cuma lingkungan yang tercemar. Habitat penyu yang dilindungi pun terganggu. Kasian penyu-penyu. Karena mereka kalau meliat sampah plastik mengapung, mereka (penyu) pikir itu ubur-ubur atau krustasea, yang mana itu makanan mereka,” jelasnya.

“Kita tunggu aksi nyata dari Pemerintah Kabupaten Bintan dan Provinsi Kepulauan Riau dalam menangani persoalan ini,” harapnya. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *