banner 728x90
Bupati Natuna Cen Sui Lan berdialog dengan murid Sekolah Rakyat Natuna. F- ist

Cen Sui Lan Pengin Pelajar Betah dan Gizi Terpenuhi di Sekolah Rakyat Natuna

Komentar
X
Bagikan

Natuna, suaraserumpun.com – Bupati Natuna Cen Sui Lan meninjau proses belajar mengajar di Sekolah Rakyat Natuna, Selasa (30/9/2025) kemarin. Cen Sui Lan pengin, para pelajar betah menuntut ilmu di sekolah rakyat tersebut. Dan gizi terpenuhi untuk para pelajar dari keluarga kurang mampu tersebut.

Riuh suara anak-anak memenuhi ruang makan siang Sekolah Rakyat, Selasa (30/9/2025). Puluhan siswa berbaris rapi, menenteng piring, menunggu giliran mengambil jatah makan siang. Nasi, lauk, dan sayur sudah tersaji. Sebelum menyantap, mereka kompak menundukkan kepala, berdoa bersama. Di barisan belakang, Bupati Natuna Cen Sui Lan ikut mengamati. Ia menatap satu per satu menu yang dituang ke piring siswa.

Program Sekolah Rakyat yang baru diresmikan memang dirancang untuk pemerataan pendidikan dari kalangan siswa keluarga sederhana, tetapi juga memberi pendidikan karakter lewat pola hidup bersama di asrama. Bupati Natuna Cen Sui Lan menginginkan, agar perhatian terhadap kesehatan dan gizi anak-anak tidak boleh kendur.

“Sudah bagus, tapi menunya harus lebih banyak sayuran. Kurangi makanan bersantan,” ujarnya, sembari tersenyum.

Kehadiran Cen Sui Lan bukan sekadar formalitas. Ia ingin memastikan gizi siswa asrama terpenuhi. Anak-anak yang tinggal jauh dari orang tua tak hanya butuh fisik yang kuat, tapi juga kenyamanan. Karena itu, ia meminta skrining kesehatan dilakukan rutin tiap bulan. Guru pun diminta menjaga disiplin, dari jam tidur hingga pola makan.

“Kesehatan dan disiplin harus berjalan beriringan. Dan pastikan siswa betah diasrama,” kata Cen Sui Lan.

Sejak beroperasi di gedung Asrama Haji, sekolah ini dinilai Cen Sui Lan sangat luar biasa. Namun ia tetap mengingatkan, pendampingan guru tak boleh kendur.

“Mereka masih butuh bimbingan untuk membiasakan hidup sehat dan mandiri,” tambahnya.

Bagi sebagian siswa, tinggal di asrama juga berarti belajar menahan rindu. Purwanti, Kepala Dinas Sosial, bercerita tentang seorang anak yang terbiasa memelihara tiga ekor sapi di rumah.

“Kalau malam, suka ingat sapi-sapinya,” kata Purwanti.

Kerinduan itu perlahan terobati dengan rutinitas baru: belajar bersama, bermain di halaman asrama, hingga menikmati makan siang yang kali ini diperhatikan langsung oleh bupati. (yen)

Editor: Sigik RS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *