Bintan, suaraserumpun.com – Pulau Selentang di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjadi satu di antara banyak destinasi wisata bahari, yang bisa memberikan kepuasan bagi traveler. Berikut potret melancong ke surga bahari Pulau Selentang nan eksotis di Tambelan.
Pekan lalu, Bupati Bintan Roby Kurniawan bersama OPD dan Forkopimda melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Tambelan. Reporter suaraserumpun.com mendapatkan kesempatan lagi untuk mengeksploitasi potret keindahan wisata bahari di Tambelan. Jika sebelumnya tentang wisata menyaksikan penyu bertelur di Pulau Nangka, kini saatnya menikmati surga bahari di Pulau Selentang dengan snorkeling dan menyelam ke dasar laut.
“Wow, keindahan wisata bahari Pulau Selentang itu bagus untuk dieksploitasi lewat tulisan. Ajak teman-teman Diskominfo (Bintan) ke sana,” ucap Roby Kurniawan kepada suaraserumpun.com, saat masih dalam perjalanan menggunakan kapal Roro Bahtera Nusantara 03 menuju Tambelan.
Rabu (18/6/2025) pagi, cuaca di sekitar Pulau Tambelan terlihat begitu cerah. Matahari dari ufuk timur menyinari lembut puluhan kapal motor yang pulang melaut. Satu per satu pompong penangkap ikan milik nelayan itu ditambatkan di pelantar panjang yang menghubungkan tiga desa dan 1 kelurahan di Pulau Tambelan. Suasana di sepanjang jalan lingkar laut Tambelan itu membikin hati damai bagi Kepala Diskominfo Bintan Didi Kurniadi, staf pegawai dan para reporter.

Tak berselang lama, satu armada speed boat milik BUMDes Kampung Melayu merapat ke pelabuhan rakyat, tepatnya di depan Pos TNI AL Tambelan. Speed boat Maju Melayu ini dinakhodai oleh Teguh Reza.
“Sudah lama nunggu bang? Kalau tak ada yang ditunggu, langsung berangkat kita,” ucap Teguh dengan tersenyum.
Rombongan Kadiskominfo Bintan dan reporter suaraserumpun.com pun meninggalkan pelabuhan rakyat tersebut, menuju satu pulau di gugusan Kecamatan Tambelan. Pagi itu, haluan speed boat mengarah ke Pulau Selentang. Letaknya di Barat Daya Pulau Tambelan. Selama perjalanan kurang lebih 20 menit, rombongan menikmati suasana panorama pulau berpantai pasir putih. Serta mencuci mata tatkala melihat kejernihan permukaan air laut yang menjadi area melompat bagi ikan-ikan kecil.
Tak terasa, kecepatan speed boat yang membawa rombongan berkurang, dari 30 knot turun ke 10 knot. Haluan speed boat tertuju ke pantai berpasir putih, penuh dengan pohon kelapa di antara bebatuan besar. Speed boat pun berhenti dan berlabuh di tengah laut, sekitar 100 meter dari bibir pantai.
“Tunggu sebentar, kita menunggu Bang Mit,” ucap Teguh.
Dari satu pulau yang berada di depan Pulau Selentang, terlihat seorang pemuda mendayung perahu kecil yang terbuat dari bahan bekas drum berwarna biru. Dia adalah Mitarja (40) yang akrab disapa dengan Bang Mit, pemuda yang dimaksud Teguh. Bang Mit ini adalah anak dari Usman Bakar. Mereka satu keluarga dari sejumlah orang pemilik lahan di Pulau Selentang.

Bang Mit pun merapat ke speed boat yang ditumpangi rombongan Diskominfo Bintan dan wartawan. Dengan senyum lebar, Bang Mit menanyakan maksud dan tujuan tamu yang tiba. Dengan senang hati, Bang Mit mempersilakan rombongan untuk berkunjung ke Pulau Selentang, guna menikmati wisata surga bahari di pesisir pulau tersebut.
Untuk mencapai bibir pantai Pulau Selentang, pengunjung tidak bisa membawa speed boat secara langsung. Karena, sekitar 100 meter dari laut ke pantai, atau dari pantai ke laut, penuh dengan terumbu karang. Pengunjung mesti menggunakan rakit busa, yang khusus disediakan oleh Bang Mit.
“Speed boat ditambat di tengah laut ini. Kita pakai rakit busa itu, untuk menuju ke pantainya,” kata Bang Mit.
Rakit busa yang disediakan Bang Mit, ukurannya tidak begitu besar. Sekali jalan, bisa mengangkut 4 sampai 5 orang pengunjung. Dengan rakit busa ini, kondisi terumbu karang akan terlindungi dari kerusakan bagi pengunjung.
Pesisir pantai Pulau Selentang Tembelan tempat tinggal Bang Mit dan orangtuanya Pak Usman Bakar ini, menghadap ke timur. Ketika pagi hari, dari pesisir pantai Pulau Selentang ini bisa menyaksikan sunrise atau momen ketika matahari terbit dari ufuk timur yang muncul dari permukaan laut. Tak bisa dibayangkan betapa indahnya panorama di Pulau Selentang ini.

Snorkeling di Pulau Selentang
Upss, jangan terlena dulu dengan panorama sunrise dari Pulau Selentang. Ada yang lebih wow! Nah, di Pulau Selentang ini, rombongan Diskominfo Kabupaten Bintan menikmati surga bahari panorama bawah laut. Reporter suaraserumpun.com dan sejumlah wartawan serta tim Diskominfo Bintan menikmati surga bahari dengan melakukan snorkeling.
Spot atau area snorkeling di Pulau Selentang yang berada di lahan Bang Mit dan Pak Usman Bakar ini, memiliki panjang kurang lebih 200 meter. Dengan jarak ke arah laut 70-an meter. Namun, di sebelah kiri area mereka, terdapat spot snorkeling yang lebih panjang. Bisa mencapai 500-an meter.
Di luar area snorkeling ke arah laut di Pulau Selentang ini, sudah masuk tubir. Tubir atau tebing curam di dasar laut kawasan Pulau Selentang Tambelan ini sangat dalam. Tubir ini sangat cocok bagi yang melakukan diving (penyelaman) dengan menggunakan peralatan lebih lengkap dibandingkan snorkeling.
Pada momen melancong ke Pulau Selentang ini, rombongan Diskominfo Bintan dan wartawan hanya membawa peralatan snorkeling yang terbatas. 3 set peralatan snorkeling ditambah 1 baju selam, disewa dari BUMDes Kampung Hilir, Kecamatan Tambelan. Dengan menggunakan peralatan secara bergantian, tetap memuaskan bagi pengunjung.

Area snorkeling Pulau Selentang menyajikan berbagai jenis terumbu karang. Di sekitar tambatan speed boat, terumbu karang sudah agak jarang. Namun, pada spot intinya, terumbu karang begitu rapat dan berukuran besar. Bahkan pada spot utama terumbu karang tersebut terdapat bintang laut dan seribuan ikan karang dari pelbagai jenis.
Di area atau spot snorkeling Pulau Selentang Tambelan ini, juga tak jarang ditemukan gerombolan ikan yang menyerupai bola menggelinding. Tanaman seperti akar bahar maupun jenis tanaman bawah laut lainnya, juga bisa ditemui.
Tak cuma itu, di antara bongkahan terumbu karang yang besar seperti gunung atau tebing, terdapat habitat kima dan rangak. Biota laut seperti bulu babi juga bisa ditemukan di Pulau Selentang. Ikan Nemo apalagi, begitu banyak jumlahnya. Bagi yang beruntung, para penyelam bisa menemukan penyu (turtle) di daerah tubir Pulau Selentang Tambelan ini.
Area Konservasi Kima
Kawasan terumbu karang dan biota laut di pesisir Pulau Selentang Tambelan ini masih alami. Sebab, setiap orang yang datang selalu diperingatkan oleh Pak Usman Bakar dan Bang Mit, agar tidak merusak. Bahkan melarang bagi orang yang datang untuk mencari ikan di kawasan terumbu karang tersebut. Apalagi menangkap ikan dengan cara ilegal seperti membius (semprot) maupun menggunakan sejenis racun lainnya.

Tak cuma melarang penangkapan ikan. Pak Usman Bakar dan anaknya Bang Mit juga membuat satu kawasan penangkaran atau konservasi untuk biota laut seperti Kima (jenis kerang berukuran besar) dan Rangak, serta ikan nemo di daerah pesisir. Kima dan Rangak yang ditemukan secara tidak sengaja di kawasan terumbu karang, dipindahkan ke lokasi konservasi tersebut. Kini, di dalam area konservasi tersebut terdapat puluhan Kima dan Rangak dalam kondisi hidup. Area konservasi Kima dan Rangak ini pun menjadi tempat bagi pengunjung.
“Dari dulu, setiap pengunjung yang datang ke sini, kami ingatkan jangan merusak terumbu karang dan Kima maupun Rangak dan hewan-hewan laut lainnya. Kalau mau menikmati keindahan terumbu karang, silakan saja,” kata Usman Bakar (70).
Asal-usul Pulau Selentang Tambelan
Usman Bakar sudah sejak kecil tinggal di Pulau Selentang. Bahkan setelah tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG), Usman Bakar tetap tinggal di Pulau Selentang, hingga memiliki 5 orang anak dan 5 orang cucu saat ini. Pulau Selentang sudah milik orang tua dan nenek buyut keluarga Pak Usman Bakar. Kepemilikan Pulau Selentang sudah turun temurun.
“Kami adalah keturunan keempat yang sudah mendiami pulau ini. Di pulau ini masyarakatnya sebagai nelayan, sekaligus menjadi petani dengan berkebun. Dengan menanam berbagai jenis tanaman tahunan seperti kelapa, pisang dan lainnya,” kata Usman Bakar.

Keluarga Usman Bakar merupakan warga Kampung Hilir, Tambelan. Namun lebih banyak menghabiskan waktunya di Pulau Selentang. Karena dari pulau ini juga mulai dari kakek dan neneknya, sebagai salah satu tempat untuk menghidupi keluarga mereka.
Pulau Selentang bisa disebut sebagai Rajanya Pulau yang ada di gugusan Pulau Tambelan, karena keindahan pantai dan terumbu karangnya. Makanya, Pulau Selentang dikenal sejak lama. Hal ini pula yang membikin keluarga Usman Bakar tak ingin meninggalkan Pulau Selentang. Khawatir dirusak oleh tangan jahil.
“Kalau dari cerita orang tua dan kakek kami, yang memberi nama Pulau Selentang adalah orang Belanda, pada masa penjajahan dahulu. Ada juga yang menyebut namanya Pulau Selintang. Itu asal-usul Pulau Selentang,” ungkapnya.
Jadi Objek Wisata
Beberapa tahun silam, turis asal Amerika dan Australia sempat singgah ke Pulau Selentang. Para turis menggunakan kapal yacht tersebut menyangka di pesisir Pulau Selentang ini terdapat pub atau hiburan.

“Ya, mereka turis luar itu singgah ke sini, bernyanyi. Ada juga yang menikmati panorama terumbu karang di sini,” ucapnya.
Dibandingkan gugusan pulau di Tambelan lainnya, Pulau Selentang terbilang masih perawan, belum dirusak manusia. Justru itu, keluarga Usman Bakar semakin berhati-hati untuk menjaga kelestarian terumbu karang dan biota laut yang ada di Pulau Selentang. Hal ini pula yang membuat pengunjung lokal semakin banyak berwisata ke Pulau Selentang, untuk menikmati panorama bawah laut.
“Silakan datang ke sini, untuk santai, rileks dan melihat atau menyelam. Sopan lah dengan alam. Jangan merusak,” pesan Usman Bakar yang akrab disapa Pak Ude Man ini.
Meski sudah banyak pelancong yang datang berwisata ke Pulau Selentang, pulau surga bahari ini masih dikelola secara pribadi oleh keluarga Pak Usman Bakar. Terutama pada area pantai yang menjadi bagian mereka atau lahan yang sudah dimiliki mereka secara turun temurun tersebut. Keluarga Usman Bakar melakukan upaya melestarikan terumbu karang, dengan harapan para wisatawan bisa lebih nyaman saat berkunjung.
Mitarja anak kedua Usman Bakar yang akrab disapa Bang Mit pun berkomitmen untuk terus menjadi keaslian, kelestarian dan keindahan Pulau Selentang, agar tetap natural. Termasuk menjaga terumbu karang dan biota laut nan eksotis serta pasir putih di sepanjang pantai tersebut. Bukan berarti keluarga Bang Mit ini menolak dikelola oleh pihak swasta, untuk bekerja sama mengembangan potensi wisata yang tersembunyi di Pulau Selentang ini.

Keluarga Usman Bakar dan anaknya Bang Mit membuka diri untuk pengembangan wisata bahari di Pulau Selentang ini. Asalkan tidak merusak ekosistem terumbu karang dan habitat biota laut di Pulau Selentang.
“Untuk saat ini, kami tidak memberikan tarif kepada pengunjung yang datang. Terutama untuk pengunjung lokal. Kalau dari turis, kami cuma tarik (tarif) Rp20 ribu per orang. Itu pun untuk uang membersihkan sampah,” sebut Bang Mit.
Sekarang, pulau ini menjadi idola bagi pengunjung yang sudah pernah menikmati surga bahari di Pulau Selentang Tambelan ini. Hanya saja, promosi surga bahari Pulau Selentang nan eksotis di Tambelan ini, masih dari mulut ke mulut. Justru itu, BUMDes Kampung Melayu Kecamatan Tambelan sudah menyiapkan sewa atau rental speed boat, bagi pengunjung ke Pulau Selentang. Selain itu, BUMDes Kampung Hilir Kecamatan Tambelan, juga menyediakan jasa sewa peralatan snorkeling.
“Kami sudah sekitar lima tahunan, menyediakan sewa speed boat bagi yang ingin melancong ke pulau, seperti ke Pulau Selentang ini. Kalau sewa alat snorkeling dan alat selam, itu ada di BUMDes Kampung Hilir,” kata Teguh Reza nakhoda speed boat Maju Melayu yang juga staf Kantor Desa Kampung Melayu tersebut mewakili Kades Kampung Melayu Isbandi.

Surga Bahari Pulau Selentang
Menikmati panorama surga bahari di Pulau Selentang dengan snorkeling, tak cukup dengan waktu tiga jam. Pada kesempatan awal ini, rombongan Diskominfo Bintan dan wartawan hanya menikmati panorama bawah laut di bagian pesisir pantai Pulau Selentang, yang berada di depan hunian Pak Usman Bakar. Sedangkan, beberapa area inti terumbu karang di titik lain belum dijelajah keseluruhannya.
Dewi Hartati seorang wartawati mengatakan, melancong ke Pulau Selentang tidak rugi, benar-benar merasakan liburan para pelancong. Terutama untuk menikmati panorama di bawah laut atau wisata bahari dengan snorkeling. Apalagi berkesempatan melakukan diving ke daerah tubir yang lebih dalam.
“Ternyata memang bener apa yang disampaikan orang tentang keindahan terumbu karang dan panorama bawah laut Pulau Selentang ini. Saya pergi ke sini tanpa persiapan yang matang. Tapi, sangat memberikan pesona yang luar biasa,” kata Dewi.
Meski belum sampai ke hamparan terumbu karang yang padat, Dewi sudah merasakan kepuasan saat menyaksikan ikan nemo yang hidup di antara terumbu karang yang alami. Menurutnya, di Pulau Bintan (daratan), untuk melihat ikan nemo, harus berlayar ke tengah laut (jauh). Di Pulau Selentang, beberapa meter dari bibir pantai, sudah menemukan ikan nemo hidup di terumbu karang.
Begitu juga dengan bintang laut. Di daerah lain belum tentu ditemukan bintang laut saat snorkeling maupun diving. Di Pulau Selentang, para pelancong akan menemukan bintang laut menempel di terumbu karang. Begitu juga terumbu karang di Pulau Selentang ini, hanya beberapa meter dari bibir pantai, sudah menemukan taman terumbu karang yang padat.
“Kita juga menemukan umang, kima, bulu babi dan biota laut lainnya. Sangat terkesan ketika sandal saya sempat dijepit oleh kima, kerang berukuran sangat besar itu. Pengalaman ini hanya saya dapatkan di Pulau Selentang,” ujar Dewi Hartati.
Tak hanya wartawan yang terkesan dengan panorama surga bahari Pulau Selentang. Kadis Kominfo Bintan Didi Kurniadi juga mengalami hal yang sama. Untuk melancong ke Pulau Selentang, traveler mesti meluangkan waktu yang cukup lama. Jika perlu mengingat atau camping di Pulau Selentang. Sehingga, hamparan surga bahari Pulau Selentang bisa dinikmati keseluruhan. Bahkan, pengunjung bisa menyaksikan secara langsung penyu bertelur pada malam hari.

“Saya pengin lagi ke Pulau Selentang Tambelan ini. Tapi dengan persiapan yang lebih maksimal. Sehingga benar-benar puas,” tutup Didi Kurniadi sambil meninggalkan Pulau Selentang menuju Tambelan.
Demikian potret melancong ke surga bahari Pulau Selentang nan eksotis di Tambelan. Nah, tunggu apalagi bagi yang hobi travelling. Tentukan waktu Anda untuk menikmati panorama bawah laut di Pulau Selentang, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. Soal biaya, itu mah relatif. (yen)
Editor: Sigik RS
